Teheran dan Muscat membuat keputusan mengejutkan dengan mengumumkan rencana untuk memberlakukan biaya transit bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz selama periode gencatan senjata dua minggu. Gencatan senjata ini baru saja disepakati antara Amerika Serikat dan Iran, dengan Pakistan sebagai mediator kunci. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa langkah ini menjadi bagian integral dari kesepakatan tersebut.
Menurut laporan dari CNN dan Associated Press pada Rabu (8/4/2026), pungutan biaya ini secara eksplisit diizinkan sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata AS-Iran yang dimediasi Pakistan. Kantor berita Iran, Tasnim, juga mengkonfirmasi informasi ini, menambahkan bahwa dana yang terkumpul dari biaya transit akan dialokasikan untuk upaya rekonstruksi Iran pasca-serangan yang dilancarkan oleh AS dan Israel sejak 28 Februari lalu.

Sementara itu, tujuan penggunaan dana oleh Oman dari pungutan Selat Hormuz masih menjadi misteri. Kementerian Luar Negeri Oman belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan ini. Perlu diketahui, Iran dan Oman memiliki hak teritorial bersama atas jalur perairan strategis ini.
Selat Hormuz sendiri merupakan arteri vital bagi pasokan minyak dan gas global. Sebelum konflik pecah, sekitar seperlima dari pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia berlayar melalui jalur ini. Namun, perang berkelanjutan antara AS dan Israel melawan Iran telah secara signifikan membatasi aktivitas perlintasan sejak awal Maret. Situasi ini telah memicu gangguan global yang parah, meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak dunia melonjak.
Menurut perusahaan intelijen maritim Kpler, aktivitas perlintasan di Selat Hormuz anjlok sekitar 95 persen sejak perang dimulai pada akhir Februari. Dampaknya terasa di seluruh pasar energi global. Hanya segelintir kapal tanker, seperti dari Pakistan dan India, yang berhasil melintas setelah negosiasi intensif dengan Teheran. Dilaporkan, Iran memungut biaya hingga US$ 2 juta (sekitar Rp 34 miliar) per kapal untuk izin melintas. Namun, belum jelas apakah ada operator kapal yang telah membayar biaya tersebut.

