Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan ancaman serius terhadap Iran. Dalam pernyataan terbarunya, Trump memperingatkan bahwa Republik Islam itu bisa "dihancurkan dalam semalam, dan malam itu mungkin besok malam," sambil menetapkan tenggat waktu ketat bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan.
Trump menegaskan bahwa Iran harus menyetujui kesepakatan gencatan senjata pada Selasa malam (7/4) atau menghadapi konsekuensi militer yang jauh lebih luas. Ancaman ini mencakup serangan besar-besaran terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur penting lainnya. Tuntutan utama dari Washington adalah penghentian program senjata nuklir Iran dan pembukaan kembali jalur transit minyak vital, Selat Hormuz.

Dalam konferensi pers di Gedung Putih, seperti dilansir internationalmedia.co.id, Trump menyatakan, "Seluruh negara itu dapat dihancurkan dalam semalam, dan malam itu mungkin besok malam." Ia menambahkan, "Saya harap saya tidak perlu melakukannya." Menanggapi kritik yang menyebut serangan terhadap fasilitas sipil sebagai kejahatan perang, Trump dengan tegas membantah pada Senin (6/4) waktu setempat. "Saya tidak khawatir tentang itu. Tahukah Anda apa itu kejahatan perang? Memiliki senjata nuklir," ujarnya.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengkonfirmasi eskalasi serangan. Ia menyebut bahwa volume serangan terbesar sejak hari pertama operasi militer melawan Iran terjadi pada Senin, dan memperingatkan bahwa hari Selasa akan menyaksikan lebih banyak lagi gempuran.
Di sisi lain, pemerintah Iran bersikeras pada tuntutannya sendiri terkait Selat Hormuz, yang ditutup menyusul serangan militer AS dan Israel terhadap negara tersebut. Mehdi Tabatabaei, pejabat komunikasi di kantor Presiden Iran Massoud Pezeshkian, menyatakan bahwa Selat Hormuz, yang krusial bagi pasar minyak dan gas global, hanya akan dibuka kembali "jika, dalam kerangka tatanan hukum baru, kerusakan akibat perang yang dipaksakan sepenuhnya dikompensasi dari sebagian biaya transit."
Komando angkatan laut Garda Revolusi, pasukan elite Iran, dikutip media dalam negeri, menegaskan bahwa Selat Hormuz "tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelumnya, terutama bagi Amerika Serikat dan Israel." Iran juga mengklaim kendali penuh atas jalur tersebut dan berencana untuk menerapkan sistem tarif bagi kapal-kapal yang melintas, menambah kompleksitas krisis maritim ini.

