Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan serangan militer baru yang akan membawa Iran kembali ke "zaman batu". Ancaman keras ini segera direspons oleh militer Iran yang bersumpah akan melancarkan serangan "menghancurkan" terhadap AS dan Israel, memicu kekhawatiran global akan eskalasi konflik yang lebih luas.
Dalam pidatonya di Gedung Putih pada Rabu (1/4), Trump dengan tegas menyatakan bahwa AS akan menyerang Iran "dengan sangat keras selama dua hingga tiga minggu ke depan." Ia menambahkan, "Kita akan membawa mereka kembali ke zaman batu, tempat mereka seharusnya berada," sebuah retorika yang menggarisbawahi niat serius Washington untuk menekan Teheran.

Tak tinggal diam, komando operasi militer Iran, Khatam Al-Anbiya, mengeluarkan pernyataan balasan yang tak kalah sengit. Mereka menjanjikan tindakan yang "lebih menghancurkan, lebih luas, dan lebih destruktif." Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa perang akan berlanjut hingga AS dan sekutunya "dipermalukan, dihina, dan menyesalinya secara permanen dan pasti, serta menyerah," seperti dilansir internationalmedia.co.id pada Kamis (2/4/2026).
Di tengah memanasnya retorika perang, sorotan internasional juga tertuju pada insiden lain yang melibatkan Israel. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengutuk keras serangan Israel yang menewaskan tiga prajurit TNI, personel Pasukan Perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon, pada akhir Maret lalu. PBB menyampaikan belasungkawa mendalam kepada Indonesia dan keluarga para korban. "Para anggota Dewan Keamanan menyampaikan belasungkawa dan simpati terdalam mereka kepada keluarga para korban, serta kepada Indonesia," demikian pernyataan Dewan Keamanan PBB pada Rabu (1/4), sebagaimana dilaporkan Anadolu Agency dan dikutip internationalmedia.co.id.
Isu strategis lainnya adalah masa depan Selat Hormuz, jalur perairan vital bagi pasokan energi global. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa pengaturan terkait selat ini sepenuhnya berada di tangan Iran dan Oman, mengingat wilayah perairan tersebut masuk dalam kedaulatan kedua negara. Dalam wawancara dengan televisi lokal Qatar, Araghchi menyatakan Selat Hormuz "dapat menjadi jalur air perdamaian" namun menekankan perlunya mekanisme bersama antarnegara pesisir untuk menjamin keamanan maritim dan perlindungan lingkungan.
Menariknya, Presiden Trump justru berupaya meremehkan ketergantungan AS pada Selat Hormuz. Dalam pidatonya, ia mengklaim bahwa AS "tidak membutuhkan" jalur perairan tersebut. Pernyataan ini muncul di tengah kenyataan bahwa aktivitas perlintasan di Selat Hormuz telah dibatasi secara efektif sejak awal Maret, akibat konflik berkelanjutan antara AS dan Israel melawan Iran. Pembatasan ini telah memicu gangguan global, meningkatkan biaya pengiriman, dan mendorong harga minyak dunia melonjak, dengan banyak negara menanggung dampak terberat dari gejolak di kawasan tersebut.

