Internationalmedia.co.id – News – Manila berhasil meraih lampu hijau dari Teheran, mengizinkan kapal-kapal tanker minyak berbendera Filipina melintasi Selat Hormuz yang strategis, di tengah pusaran konflik geopolitik yang memanas di Timur Tengah. Kabar ini menjadi angin segar bagi Filipina, sebuah negara kepulauan yang sangat bergantung pada impor minyak, dengan Iran menjamin perlintasan aman bagi pasokan vital tersebut.
Departemen Luar Negeri Filipina, seperti dilaporkan pada Kamis (2/4/2026), mengumumkan terbukanya pintu bagi pengiriman minyak esensial ini menyusul "percakapan telepon yang produktif" antara Menteri Luar Negeri Filipina Theresa Lazaro dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Dalam dialog tersebut, Menlu Iran meyakinkan bahwa Teheran akan memberikan "perlintasan aman, tanpa hambatan, dan cepat" melalui Selat Hormuz bagi kapal-kapal berbendera Filipina, sumber energi, serta seluruh pelaut Filipina.

Langkah diplomatik ini sangat krusial mengingat Filipina mengimpor mayoritas kebutuhan energinya dari kawasan Timur Tengah. Departemen Luar Negeri Filipina menegaskan bahwa kesepakatan ini akan menjamin "pasokan minyak dan pupuk penting yang stabil ke Filipina." Menlu Lazaro sendiri melalui platform media sosial X menyatakan bahwa percakapan tersebut telah mencapai "pemahaman positif tentang keselamatan para pelaut kita dan keamanan pasokan energi kita."
Sebelumnya, Presiden Ferdinand Marcos Jr. telah mendeklarasikan status darurat energi nasional pekan lalu. Dengan populasi 116 juta jiwa, Filipina berjuang mengatasi lonjakan harga bahan bakar yang mencapai rekor tertinggi, sebuah krisis yang diperparah oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Harga bahan bakar di Filipina melonjak drastis sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan skala besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu, yang secara efektif membatasi perlintasan di Selat Hormuz.
Selat Hormuz, jalur perairan sempit namun vital yang menjadi urat nadi pasokan minyak dan gas global, telah menjadi titik ketegangan utama. Pembatasan aktivitas perlintasan di jalur strategis ini sejak awal Maret telah memicu gangguan rantai pasokan global, meningkatkan biaya pengiriman, dan mendorong harga minyak dunia melonjak ke level yang mengkhawatirkan.
Upaya diplomatik Filipina untuk mengamankan jalur ini tidak terjadi secara instan. Sehari sebelum percakapan telepon penting tersebut, Menlu Lazaro juga telah bertemu dengan Duta Besar Iran di Manila. Dalam pertemuan itu, ia secara resmi meminta penetapan Filipina sebagai "negara non-musuh" di tengah gejolak regional.
Izin yang berhasil didapatkan Filipina ini mengikuti jejak dua negara Asia Tenggara lainnya, Malaysia dan Thailand, yang juga telah memperoleh konsesi serupa. Bahkan, otoritas Kuala Lumpur melaporkan bahwa kapal-kapal tankernya akan dibebaskan dari tarif tol yang rencananya akan diberlakukan Teheran bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Keberhasilan Filipina ini menunjukkan pentingnya diplomasi di tengah krisis global yang kompleks.

