Internationalmedia.co.id – News – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru-baru ini membuat pengakuan mengejutkan, menyatakan bahwa negaranya sedang menjalin komunikasi dengan figur penting dalam rezim Iran. Dialog ini diklaim bertujuan untuk mencari jalan keluar dari konflik yang berkepanjangan. Namun, Trump secara tegas membantah bahwa pembicaraan tersebut melibatkan pemimpin tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei.
Dilansir dari CNN pada Selasa (24/3/2024), ketika didesak wartawan mengenai identitas pihak Iran yang diajak bicara, Trump menjawab, "Seorang tokoh penting." Ia menambahkan bahwa AS telah "melenyapkan kepemimpinan pada fase satu, fase dua, dan sebagian besar fase tiga," sehingga kini berurusan dengan sosok yang diyakininya "paling dihormati." Trump juga menyebutkan bahwa utusan khususnya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, terlibat aktif dalam upaya diplomasi ini, meski identitas lawan bicaranya di Iran tidak diungkapkan secara spesifik.

Saat didesak lebih lanjut apakah AS berkomunikasi dengan Khamenei, Trump dengan lugas membantah, "Tidak, bukan Pemimpin Tertinggi." Ia bahkan menyiratkan keraguan terhadap keberadaan atau peran Mojtaba Khamenei. "Kita belum mendengar kabar dari putranya. Sesekali Anda akan melihat pernyataan yang dibuat—tetapi kita tidak tahu apakah dia masih hidup," kata Trump. "Saya tidak menganggap dia sebagai pemimpin sejati," tambahnya, meragukan legitimasi kepemimpinan Mojtaba.
Namun, klaim Trump ini segera dibantah keras oleh pihak Iran. Teheran menegaskan bahwa tidak ada negosiasi yang berlangsung dengan Amerika Serikat, menolak laporan tentang adanya pembicaraan di tengah konflik Timur Tengah yang sedang memanas.
Menurut laporan Anadolu Agency pada Selasa (24/3/2024), juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, kepada kantor berita resmi IRNA, mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, pesan memang telah disampaikan melalui "negara-negara sahabat." Pesan tersebut mengindikasikan adanya permintaan AS untuk negosiasi guna mengakhiri perang. Iran, kata Baghaei, telah menanggapi permintaan tersebut sesuai dengan "posisi prinsipnya."
Baghaei juga menegaskan bahwa tanggapan Iran mencakup peringatan tegas mengenai "konsekuensi serius" dari setiap serangan terhadap infrastruktur vital negara. Ia menekankan bahwa setiap tindakan yang menargetkan fasilitas energi Iran akan ditanggapi dengan respons yang "tegas, segera, dan efektif" oleh angkatan bersenjata mereka. Secara eksplisit, Baghaei membantah bahwa negosiasi atau dialog apa pun dengan AS telah terjadi selama 24 hari terakhir sejak pecahnya apa yang ia sebut sebagai "perang yang dipaksakan."

