Internationalmedia.co.id – News – Washington DC – Sebuah manuver mengejutkan datang dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang baru-baru ini mengancam akan mengerahkan agen Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) ke seluruh bandara di AS. Ancaman ini muncul di tengah krisis anggaran yang menyebabkan ribuan personel keamanan bandara bekerja tanpa bayaran. Dilansir dari berbagai sumber, Minggu (22/3/2026), pernyataan kontroversial ini disampaikan Trump melalui platform media sosial Truth Social miliknya.
Trump menegaskan, pengerahan agen ICE yang ia sebut "brilian dan patriotik" ini akan menjadi kenyataan jika Partai Demokrat tidak segera menyepakati perjanjian pendanaan pemerintah. "Saya akan memindahkan Agen ICE kita yang brilian dan patriotik ke Bandara di mana mereka akan melakukan Keamanan seperti yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya," tulis Trump. Tak lama berselang, ia kembali mengunggah pesan, "Saya berharap dapat memindahkan ICE pada hari Senin, dan telah memberi tahu mereka untuk, ‘BERSIAPLAH.’"

Ancaman Trump ini mencuat hanya beberapa jam setelah miliarder teknologi Elon Musk membuat tawaran mengejutkan. Melalui platform X miliknya, Musk menyatakan kesediaannya untuk menanggung gaji personel keamanan bandara AS yang telah bekerja tanpa bayaran sejak pertengahan Februari, akibat kebuntuan anggaran pemerintah. "Saya ingin menawarkan untuk membayar gaji personel TSA selama kebuntuan pendanaan ini yang berdampak negatif pada kehidupan begitu banyak warga Amerika di bandara di seluruh negeri," tulis Musk.
Karyawan Bandara Terpaksa Bekerja Tanpa Gaji
Krisis pendanaan ini telah memaksa ribuan staf Administrasi Keamanan Transportasi (TSA) – yang bertanggung jawab atas pemeriksaan penumpang, bagasi, dan kargo – untuk tetap bertugas tanpa upah di tengah peningkatan volume perjalanan musim semi. Badan yang berada di bawah Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) ini memiliki sekitar 65.000 karyawan, dengan estimasi anggaran gaji tahunan mencapai $2,5 miliar hingga $3 miliar.
Di sisi lain, Partai Demokrat di Kongres menolak keras pemberian dana baru untuk DHS, kecuali ada perubahan signifikan dalam metode operasi penegakan imigrasi ICE. Penolakan ini dipicu oleh serangkaian konfrontasi kekerasan yang terekam dalam video media sosial. Demokrat menuntut pengurangan patroli, larangan penggunaan masker wajah oleh agen, serta kewajiban bagi agen ICE untuk memperoleh surat perintah pengadilan sebelum memasuki properti pribadi.
Meskipun ICE adalah bagian dari DHS, mereka masih dapat menjalankan operasionalnya berkat dana yang telah disetujui Kongres tahun lalu. Sementara itu, dampak krisis ini terhadap TSA sangat nyata. Departemen Keamanan Dalam Negeri melaporkan lebih dari 300 karyawan TSA telah mengundurkan diri sejak penutupan pemerintah parsial dimulai pada 14 Februari. Media AS juga mencatat peningkatan ketidakhadiran tanpa pemberitahuan lebih dari dua kali lipat. Banyak petugas terpaksa mencari pekerjaan sampingan atau bergantung pada sumbangan, dengan beberapa bandara besar bahkan menyediakan kartu hadiah dan lumbung makanan untuk membantu staf TSA yang kesulitan tanpa gaji.
Operasional Bandara Terganggu dan Kritik Tajam
Akibatnya, operasional bandara di sejumlah kota besar terganggu, memaksa penumpang untuk tiba beberapa jam lebih awal dari jadwal keberangkatan karena antrean keamanan yang memanjang. Johnny Jones, seorang pejabat serikat pekerja pemerintah AFGE di Dallas, mengungkapkan keprihatinan mendalam. "Banyak karyawan telah melaporkan kepada saya bahwa rekening bank mereka nol atau negatif," katanya kepada internationalmedia.co.id. "Tidak ada dana untuk penitipan anak, tidak ada dana untuk makanan. Mereka hanya ingin tahu mengapa mereka tidak bisa dibayar sementara kita punya uang untuk menembakkan rudal ke negara lain."
Reputasi ICE sendiri memang kerap menjadi sorotan dan sangat tidak populer di kalangan banyak warga AS, terutama setelah insiden pembunuhan dua warga negara AS yang memprotes razia agresif ICE di Minneapolis pada Januari lalu. Insiden tersebut bahkan menyebabkan Trump memecat kepala keamanan dalam negeri saat itu, Kristi Noem. Dalam unggahan awalnya, Trump juga sempat menyindir negara bagian yang dipimpin Demokrat, Minnesota, tempat insiden tersebut terjadi. Ia menyatakan bahwa jika agen ICE dikerahkan ke bandara, mereka akan segera menangkap imigran ilegal yang telah "benar-benar menghancurkan… Negara Bagian Minnesota yang dulunya hebat."

