Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, baru-baru ini mengisyaratkan kesediaan negaranya untuk menjalin hubungan baik dengan Amerika Serikat (AS), namun dengan syarat yang cukup mengejutkan. Pyongyang menuntut pengakuan atas statusnya sebagai kekuatan nuklir dan penarikan kebijakan permusuhan Washington. Ironisnya, di saat yang sama, Kim menegaskan bahwa Korea Selatan, sekutu dekat AS, akan tetap menjadi musuh abadi. Pernyataan kontroversial ini disampaikan Kim di penghujung kongres partai bersejarah, sebagaimana dilaporkan Internationalmedia.co.id – News.
Menurut laporan Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) yang dikutip AFP, Kim Jong Un secara gamblang menyatakan, "Jika Washington menghormati status negara kita saat ini sebagaimana diatur dalam Konstitusi… dan menarik kebijakan permusuhannya… tidak ada alasan mengapa kita tidak dapat bergaul dengan baik dengan Amerika Serikat." Pernyataan ini menegaskan kembali posisi Pyongyang yang bersikukuh pada pengakuan status nuklirnya sebagai prasyarat utama.

Di sisi lain, Kim Jong Un menutup rapat peluang untuk memperbaiki hubungan dengan Korea Selatan. Ia bahkan menegaskan akan "secara permanen mengecualikan" Seoul dari daftar "sesama warga negara" bangsanya. Dengan nada keras, Kim berujar, "Korea Utara sama sekali tidak berhak berurusan dengan Korea Selatan, entitas yang paling bermusuhan dengan kami," seraya menyebut upaya damai Seoul baru-baru ini sebagai "menipu". Perlu diketahui, Pyongyang telah mengubah konstitusinya pada tahun 2024, secara resmi mendefinisikan Korea Selatan sebagai "negara musuh" untuk pertama kalinya.
Pernyataan Kim ini disampaikan di tengah kemeriahan penutupan kongres Partai Buruh, sebuah agenda penting yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali untuk menggariskan arah kebijakan negara, mulai dari diplomasi hingga strategi pertahanan. Puncak acara tersebut ditandai dengan parade militer "megah", yang secara tradisional menjadi ajang bagi Korea Utara untuk memamerkan persenjataan terbarunya, memberikan gambaran sekilas tentang kekuatan militer mereka.
Sinyal dari Kim Jong Un ini muncul di tengah spekulasi yang berkembang mengenai kemungkinan pertemuan antara dirinya dan mantan Presiden AS, Donald Trump, di sela-sela kunjungan Trump ke China pada bulan April. Sebelumnya, Trump sendiri telah menunjukkan pendekatan yang lebih lunak terhadap Kim, bahkan pernah menyatakan "100 persen" terbuka untuk pertemuan dan mengakui Korea Utara sebagai "semacam kekuatan nuklir" – sebuah langkah yang menyimpang dari kebijakan AS selama puluhan tahun. Potensi pertemuan ini bisa menjadi terobosan setelah kebuntuan diplomasi pasca-runtuhnya KTT Hanoi pada tahun 2019, yang gagal mencapai kesepakatan mengenai pencabutan sanksi dan denuklirisasi.
Di panggung global, Kim Jong Un juga aktif membangun aliansi strategis. Ia pernah terlihat bersama Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam parade militer besar di Beijing, menunjukkan lingkaran pertemanannya yang berpengaruh dan posisinya yang signifikan dalam politik dunia. Kedekatan Pyongyang dengan Moskow semakin terlihat jelas, terutama dengan laporan pengiriman ribuan pasukan Korea Utara untuk mendukung upaya perang Rusia di Ukraina.
Langkah Kim Jong Un ini tentu akan menjadi sorotan dunia, mengingat kompleksitas hubungan internasional dan potensi dampaknya terhadap stabilitas regional. Para pengamat kini menanti respons dari Washington dan bagaimana dinamika ini akan memengaruhi peta geopolitik global. Ikuti terus perkembangan berita ini hanya di internationalmedia.co.id.

