Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance secara lugas memperingatkan Iran agar tidak meremehkan ancaman tindakan militer dari Washington. Pernyataan ini muncul sehari setelah Presiden Donald Trump menyampaikan pidato kenegaraan yang mengindikasikan justifikasi untuk potensi konflik. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, ketegangan di Timur Tengah semakin memuncak di tengah pengerahan pasukan AS di kawasan tersebut.
Dalam pidatonya di Kongres pada Selasa lalu, Presiden Trump menuding Iran tengah mengembangkan rudal yang berpotensi menjangkau wilayah Amerika Serikat. Lebih lanjut, Trump menuduh Teheran memiliki "ambisi nuklir yang jahat" dan berupaya menghidupkan kembali program nuklir yang sempat menjadi sasaran serangan AS pada tahun sebelumnya.

Pembicaraan lanjutan antara AS dan Iran mengenai program nuklir Teheran dijadwalkan kembali pada Kamis (26/2) waktu setempat. Vance menegaskan bahwa meskipun Presiden Trump akan mengupayakan kesepakatan diplomatik, kepala negara AS tersebut juga memiliki "hak" penuh untuk melancarkan aksi militer jika diperlukan.
"Kita tidak bisa membiarkan rezim yang paling tidak stabil dan berbahaya di dunia ini memiliki senjata nuklir," ujar Vance dalam wawancara dengan "America’s Newsroom" di Fox News, seperti dikutip dari kantor berita AFP. Ia menambahkan, "Presiden memiliki beragam opsi lain yang bisa ia manfaatkan untuk mencegah skenario tersebut terjadi. Ia telah menunjukkan kemauan untuk menggunakannya, dan saya berharap Iran akan menanggapi ini dengan sangat serius dalam negosiasi mendatang, karena itulah yang Presiden inginkan."
Wakil Presiden AS itu menggarisbawahi bahwa pemerintahan Trump "berharap dapat mencapai resolusi yang memuaskan tanpa intervensi militer, namun jika opsi tersebut harus diambil, Presiden tentu saja memiliki hak penuh untuk melakukannya."
Sebelumnya, dalam pidatonya, Trump juga mengklaim bahwa Teheran telah "mengembangkan rudal yang mampu mengancam Eropa dan pangkalan militer AS di luar negeri, serta berupaya menciptakan rudal yang dalam waktu dekat akan mencapai Amerika Serikat." Namun, Iran dengan tegas membantah klaim Trump tersebut, menyebutnya sebagai "kebohongan besar." Pemerintah Iran secara konsisten menampik tuduhan bahwa mereka berupaya memiliki senjata nuklir, bersikeras bahwa program nuklirnya semata-mata untuk tujuan sipil.
Untuk informasi lebih lanjut dan analisis mendalam, saksikan liputan khusus internationalmedia.co.id mengenai perkembangan terkini di Timur Tengah.

