Trump, dalam wawancaranya dengan Fox News, mengklaim bahwa pasukan NATO "agak di belakang, sedikit di luar garis depan" di Afghanistan. Pernyataan ini seolah mengabaikan fakta bahwa 457 tentara Inggris gugur dalam pertempuran di Afghanistan setelah tragedi 9/11, saat Inggris dan sekutu NATO lainnya mengaktifkan klausul keamanan kolektif untuk membantu AS.
Komentar Trump memicu kecaman keras dari berbagai pihak di Inggris. Menteri Kesehatan Stephen Kinnock menyatakan bahwa Perdana Menteri Keir Starmer akan mengangkat isu ini langsung dengan Trump. "Dia sangat bangga dengan angkatan bersenjata kita, dan dia akan menjelaskannya kepada presiden," tegas Kinnock.

Emily Thornberry, ketua Komite Urusan Luar Negeri parlemen Inggris, menyebut komentar Trump sebagai "penghinaan mutlak" terhadap keluarga korban. "Beraninya dia mengatakan kita tidak berada di garis depan," ujarnya dengan geram.
Kinnock menambahkan bahwa komentar Trump "jelas salah" dan "sangat mengecewakan". Ia mengingatkan bahwa satu-satunya saat Pasal 5 NATO diaktifkan adalah untuk membantu Amerika Serikat setelah 11 September. "Banyak sekali tentara Inggris dan banyak tentara dari sekutu NATO Eropa lainnya yang mengorbankan nyawa mereka untuk mendukung misi Amerika, misi yang dipimpin Amerika di tempat-tempat seperti Afghanistan dan Irak," tegasnya.
Data resmi pemerintah Inggris mencatat, 405 dari 457 tentara Inggris yang tewas di Afghanistan gugur dalam aksi militer musuh. Sementara itu, AS sendiri kehilangan lebih dari 2.400 tentaranya di Afghanistan. Pernyataan Trump ini menambah daftar panjang kontroversi yang melibatkan mantan presiden AS tersebut, dan berpotensi merusak hubungan antara AS dan sekutu-sekutunya di NATO.
Trump Remehkan Tentara Inggris di Afghanistan? Inggris Murka!
