Internationalmedia.co.id – Memar misterius kembali menghiasi tangan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat menghadiri Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss. Hal ini memicu spekulasi liar di media sosial, namun Trump dengan cepat memberikan penjelasan.
Sejak kembali menjabat pada tahun 2025, Trump memang kerap terlihat dengan memar di tangannya dalam berbagai acara publik. Sebelumnya, memar lebih sering terlihat di tangan kanannya dan berusaha disembunyikan dengan plester atau riasan. Gedung Putih sebelumnya menjelaskan bahwa memar tersebut disebabkan oleh kombinasi seringnya berjabat tangan dan konsumsi aspirin untuk kesehatan jantung, yang dapat meningkatkan risiko memar.

Namun, kali ini, dalam foto-foto terbaru dari Davos, memar gelap justru terlihat di tangan kiri Trump. Foto-foto yang diambil pada Kamis (22/1) itu langsung viral dan memicu berbagai teori konspirasi.
Menanggapi hal ini, Trump dengan sigap menepis spekulasi tersebut. Ia mengaku bahwa memar itu akibat terbentur meja. "Saya terbentur meja. Saya mengoleskan sedikit krim," ujarnya kepada wartawan di Air Force One.
Trump juga menambahkan bahwa dosis aspirin yang tinggi membuatnya rentan memar. "Saya akan katakan, minumlah aspirin jika Anda menyayangi jantung Anda, tetapi jangan minum aspirin jika Anda tidak ingin mengalami sedikit memar," katanya. Ia bahkan mengaku dokter menyarankan untuk berhenti mengonsumsi aspirin karena kondisinya yang sehat, namun ia menolak karena merasa tidak ingin mengambil risiko.
Gedung Putih pun memberikan pernyataan serupa. Sekretaris Gedung Putih, Karoline Leavitt, menjelaskan bahwa Trump membenturkan tangannya ke sudut meja saat acara Dewan Perdamaian di Davos. Seorang pejabat Gedung Putih juga membagikan foto-foto Trump di Davos pada Rabu (21/1) dan Kamis (22/1) pagi yang diklaim tidak menunjukkan adanya memar.
Sebelumnya, pada awal Januari, Trump juga menyalahkan aspirin atas memar di tangannya. Ia juga membantah tudingan bahwa dirinya tertidur saat menghadiri pertemuan publik. Dalam wawancara dengan The Wall Street Journal, Trump mengklaim bahwa kesehatannya "sempurna" dan merasa frustrasi dengan pengawasan terhadap kesehatannya. Meskipun demikian, tahun pertama masa jabatan keduanya telah menimbulkan pertanyaan tentang kondisi kesehatan pria berusia 79 tahun tersebut.
