Iran Siaga Penuh! Peringatan Keras untuk Israel dan AS
Pernyataan Pakpour ini muncul di tengah situasi politik dalam negeri Iran yang masih bergejolak pasca unjuk rasa besar-besaran yang mengguncang kepemimpinan ulama. Meskipun aksi protes tersebut telah mereda akibat tindakan keras pemerintah, potensi konflik tetap tinggi.

Pakpour, seperti dikutip dari AFP, Jumat (23/1/2026), menekankan pentingnya bagi Israel dan AS untuk belajar dari pengalaman sejarah, termasuk "perang 12 hari" yang terjadi sebelumnya. Ia memperingatkan bahwa setiap kesalahan perhitungan dapat berakibat fatal bagi kedua negara.
"Korps Garda Revolusi Islam dan Iran tercinta telah menempatkan jari mereka di pelatuk, lebih siap dari sebelumnya, siap melaksanakan perintah dan tindakan panglima tertinggi," tegas Pakpour, merujuk pada Ayatollah Ali Khamenei.
Pernyataan ini disampaikan dalam rangka memperingati hari nasional untuk merayakan IRGC, pasukan yang memiliki peran krusial dalam melindungi revolusi Islam 1979 dari ancaman internal dan eksternal. Namun, IRGC juga dituduh terlibat dalam penindakan brutal terhadap para demonstran dan telah dikenai sanksi oleh sejumlah negara.
Sementara itu, Presiden Israel Isaac Herzog, dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, menyatakan bahwa "masa depan rakyat Iran hanya dapat terwujud melalui perubahan rezim". Ia juga menilai bahwa "rezim Ayatollah berada dalam situasi yang cukup rapuh".
Situasi ini semakin memperkeruh hubungan antara Iran, Israel, dan AS. Peringatan keras dari IRGC menunjukkan bahwa Iran tidak akan tinggal diam jika merasa terancam. Dunia kini menanti, apakah peringatan ini akan didengar atau justru memicu konflik yang lebih besar.

