Internationalmedia.co.id – News – Sebuah pesta perayaan Tahun Baru di resor ski mewah Crans Montana, Swiss, berubah menjadi tragedi mengerikan setelah sebuah kebakaran hebat melanda bar Le Constellation. Insiden yang terjadi pada Kamis (1/1) dini hari pukul 01.30 waktu setempat ini menewaskan sedikitnya 40 orang dan melukai puluhan lainnya. Setelah penyelidikan intensif, otoritas Swiss akhirnya mengungkap pemicu utama di balik musibah mematikan tersebut.
Jaksa wilayah setempat, Beatrice Pilloud, dalam konferensi pers mengonfirmasi bahwa temuan awal penyelidikan mengarah pada lilin kembang api atau ‘lilin Bengal’ yang terpasang pada botol-botol sampanye. Kembang api tersebut diduga diangkat terlalu dekat dengan langit-langit bar yang rendah, memicu kobaran api yang sangat cepat dan meluas. Para penyidik memperkuat dugaan ini setelah meninjau rekaman video dari malam kejadian dan mendengarkan kesaksian para korban selamat.

Material busa peredam suara yang melapisi langit-langit bar di ruang bawah tanah tersebut juga menjadi fokus penyelidikan. Diduga kuat, bahan inilah yang mempercepat penyebaran api secara dramatis. Ironisnya, beberapa rekaman video menunjukkan api mulai membakar material tersebut, namun banyak pengunjung, terutama mereka yang berusia belasan akhir dan awal dua puluhan, masih terus menari, tampaknya tidak menyadari bahaya mematikan yang mengintai.
Komandan Polisi setempat, Frederic Gisler, mengonfirmasi jumlah korban tewas mencapai 40 jiwa, dengan sekitar 115 orang lainnya mengalami luka-luka, sebagian besar dalam kondisi serius. Tragedi ini bahkan disebut oleh Presiden Swiss, Guy Parmelin, sebagai "salah satu tragedi terburuk yang pernah dialami oleh negara kita," menggambarkan skala keparahan insiden tersebut.
Dampak kebakaran ini sangat parah, menyebabkan 119 korban selamat harus menjalani perawatan intensif, banyak di antaranya dalam kondisi kritis. Rumah sakit di Swiss kewalahan menampung pasien, bahkan puluhan korban luka bakar serius harus dirujuk ke fasilitas medis khusus di negara-negara Eropa tetangga. Para korban luka diketahui berasal dari berbagai negara, termasuk 71 warga Swiss, 14 Prancis, 11 Italia, 4 Serbia, serta masing-masing satu dari Bosnia, Belgia, Polandia, Portugal, dan Luksemburg. Kewarganegaraan 14 korban lainnya masih dalam identifikasi.
Penyelidikan mendalam masih terus berlangsung untuk menentukan apakah ada unsur kelalaian pidana yang berkontribusi pada tragedi ini, khususnya terkait standar keselamatan dan material bangunan yang digunakan. Jacques Moretti, pemilik bar Le Constellation yang berkewarganegaraan Prancis, bersikeras bahwa semua norma keselamatan telah dipatuhi. Ia dan istrinya, Jessica, yang selamat tanpa cedera, telah diinterogasi sebagai saksi. Hingga kini, belum ada penetapan tersangka dalam kasus yang mengguncang Swiss ini.
Di tengah kepanikan dan kepulan asap hitam pekat yang memenuhi ruangan, beberapa korban selamat membagikan kisah mengerikan mereka. Axel dan Nathan, dua pengunjung yang berhasil lolos, menggambarkan bagaimana mereka awalnya kesulitan bernapas dan merasa terjebak di tengah kerumunan yang berebut keluar. Mereka sempat bersembunyi di balik meja yang dimiringkan untuk menghindari api, sebelum akhirnya menemukan satu-satunya jalan keluar: sebuah jendela. Dengan sekuat tenaga, mereka berhasil memecahkan kaca dan melarikan diri dari neraka yang membara.
Laetitia Place, saksi selamat lainnya, menuturkan pengalamannya yang traumatis. Ia dan temannya melihat api saat hendak ke kamar mandi di lantai bawah. Dalam kekacauan evakuasi, ia sempat berpegangan tangan dengan temannya, namun terlepas di tengah desakan kerumunan. "Sekarang dia tidak menjawab saya lagi," ucap Laetitia, mengisyaratkan kehilangan temannya. Ia menggambarkan suasana mencekam di mana "semua orang saling mendorong di sebuah pintu kecil, kami semua terjatuh, bertumpuk satu sama lain, beberapa orang terbakar, dan beberapa tewas di samping kami." Hingga kini, ketakutan masih menghantuinya, dan beberapa temannya masih dirawat di rumah sakit.
