Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, melayangkan kecaman keras terhadap tindakan kepolisian Israel yang menghalangi Patriark Latin Yerusalem memasuki Gereja Makam Suci untuk merayakan Misa Minggu Palma. Insiden ini, menurut Sanchez, merupakan serangan terang-terangan terhadap kebebasan beragama. Sanchez menegaskan bahwa tanpa penjelasan atau pembenaran yang jelas, umat Katolik dicegah merayakan hari suci mereka di tempat yang sakral.
Melalui platform X, Sanchez secara gamblang menyoroti tindakan yang ia sebut sebagai "serangan tak beralasan terhadap kebebasan beragama". Ia mendesak Israel untuk menghormati hak fundamental tersebut, serta menegaskan pentingnya toleransi dan hidup berdampingan yang saling menghargai. Pemerintah Spanyol secara tegas menuntut agar Israel mematuhi keberagaman agama dan hukum internasional, mengingat bahwa tanpa toleransi, koeksistensi damai tidak akan mungkin terwujud.

Insiden yang memicu kemarahan global ini terjadi pada Minggu Palma, ketika Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, bersama dengan Penjaga Tanah Suci, Romo Francesco Ielpo, OFM, dihadang oleh kepolisian Israel. Mereka bermaksud memasuki Gereja Makam Suci, salah satu situs paling suci bagi umat Kristen, untuk memimpin Misa Minggu Palma. Namun, tanpa alasan yang jelas, akses mereka ditolak.
Patriarkat Latin Yerusalem merilis pernyataan yang menyebut peristiwa ini sebagai "situasi serius" dan "preseden yang belum pernah terjadi sebelumnya". Untuk pertama kalinya dalam beberapa abad, seorang Kepala Gereja Katolik dicegah merayakan Misa Minggu Palma di Gereja Makam Suci. Kejadian ini, menurut Patriarkat, mengabaikan sensitivitas miliaran umat Kristen di seluruh dunia yang menantikan Yerusalem selama Pekan Suci.
Sejak pecahnya konflik di Asia Barat pada 28 Februari, otoritas Israel memang memberlakukan pembatasan ketat terhadap pertemuan publik, termasuk di tempat-tempat ibadah seperti sinagoge, gereja, dan masjid, dengan batasan sekitar 50 orang. Namun, Patriarkat menegaskan bahwa para pemimpin gereja telah bertindak sangat bertanggung jawab dan mematuhi semua pembatasan yang diberlakukan sejak awal perang.
Pencegahan masuknya Kardinal dan Custos, yang memikul tanggung jawab gerejawi tertinggi untuk Gereja Katolik dan Tempat-Tempat Suci, dinilai sebagai tindakan yang "jelas tidak masuk akal dan sangat tidak proporsional". Patriarkat mengecam keputusan tersebut sebagai "tergesa-gesa dan cacat secara fundamental", yang merupakan penyimpangan ekstrem dari prinsip-prinsip dasar kewajaran, kebebasan beribadah, dan penghormatan terhadap status quo. Hingga berita ini diturunkan oleh internationalmedia.co.id, belum ada tanggapan resmi dari pihak kepolisian Israel terkait insiden tersebut.

