Ketegangan di Yaman kembali memuncak, melibatkan kelompok separatis yang didukung Uni Emirat Arab (UEA) dan koalisi pimpinan Arab Saudi. Merespons situasi genting ini, Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, mendesak semua pihak terkait untuk menahan diri dan mengedepankan dialog. Pernyataan ini disampaikan Kemlu RI di platform X, seperti dilaporkan Internationalmedia.co.id – News pada Rabu (7/1/2025).
Dalam pernyataannya, Kemlu RI menegaskan bahwa Jakarta memantau dengan cermat setiap perkembangan di Republik Yaman, khususnya di wilayah selatan. Indonesia menyerukan partisipasi konstruktif dari seluruh faksi, serta penekanan pada dialog politik yang inklusif dan komprehensif sebagai satu-satunya jalan untuk menyelesaikan perbedaan secara damai dan adil.

Indonesia juga menyambut baik inisiatif Kerajaan Arab Saudi untuk memfasilitasi sebuah konferensi komprehensif di Riyadh. Pertemuan ini diharapkan dapat mempertemukan seluruh faksi di Yaman selatan guna mencari solusi yang adil dan berkelanjutan bagi konflik berkepanjangan tersebut, demikian disampaikan Kemlu RI.
Sebelumnya, situasi di Yaman selatan memburuk setelah kelompok separatis berhasil merebut kendali atas sejumlah besar wilayah bulan lalu, termasuk sebagian besar Provinsi Hadramawt yang strategis dan berbatasan langsung dengan Arab Saudi. Perebutan ini mengakibatkan mundurnya pasukan pemerintah Yaman yang selama ini didukung oleh Riyadh.
Namun, momentum separatis terhenti pekan lalu. Koalisi pimpinan Saudi melancarkan serangkaian serangan udara intensif, diikuti dengan serangan balasan di darat, yang berhasil memukul mundur pasukan separatis dari wilayah yang sebelumnya mereka kuasai.
Menurut laporan AFP yang dikutip Internationalmedia.co.id, koalisi pimpinan Saudi menyatakan telah melancarkan serangan tambahan untuk mencegah Aidaros Alzubidi, pemimpin separatis Yaman, memperparah dan memperluas konflik hingga ke wilayah Aldhale. Koalisi menegaskan komitmennya untuk bekerja sama dengan pemerintah Yaman dan otoritas lokal dalam mendukung upaya keamanan serta menjaga ketertiban. Dalam perkembangan terkait, Alzubidi sendiri dijadwalkan tiba di Riyadh pada Selasa (6/1) waktu setempat untuk memulai pembicaraan penting yang diharapkan dapat meredakan ketegangan.
