Internationalmedia.co.id – News – Sebuah rekaman video wawancara seorang pejabat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di salah satu stasiun televisi swasta mendadak menjadi sorotan di berbagai platform media sosial. Video tersebut menampilkan pejabat tersebut sedang memberikan keterangan terkait penanganan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) secara daring, namun lokasinya terlihat seperti di sebuah kafe. Pejabat yang bersangkutan kini angkat bicara, membeberkan fakta di balik wawancara yang memicu perdebatan publik.
Video yang beredar luas sejak Selasa (25/8) menunjukkan sang pejabat duduk di salah satu sudut ruangan yang menyerupai tempat makan, sambil menyampaikan informasi krusial mengenai respons bencana di NTT. Pemandangan ini sontak memicu beragam spekulasi di kalangan warganet. Banyak yang mempertanyakan keberadaan pejabat BNPB tersebut, menganggapnya tidak berada langsung di lokasi terdampak gempa, sehingga menimbulkan kesan kurang profesional dalam penanganan situasi darurat.

Menanggapi kehebohan ini, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan (Plt Kapusdatin) BNPB, Berton SP Panjaitan, mengonfirmasi bahwa sosok dalam video viral itu adalah dirinya. Berton menjelaskan, wawancara tersebut dilaksanakan pada Kamis (20/8) pekan lalu, sekitar pukul 20.00 WIB, di sebuah rumah makan yang berlokasi dekat Bandara Labuan Bajo.
"Kami memahami adanya video yang beredar dan berbagai persepsi yang kemudian muncul di media sosial. Namun, perlu kami luruskan konteksnya," ujar Berton. Ia menambahkan bahwa pada saat itu, ia sedang menjalankan tugas komunikasi publik, yakni memberikan wawancara langsung kepada televisi nasional mengenai perkembangan penanganan gempa NTT. "Kegiatan ini dilakukan pada malam hari, di luar jam kerja kantor," tegasnya.
Berton melanjutkan, lokasi rumah makan tempat ia melakukan wawancara daring tersebut hanya berjarak sekitar sepuluh langkah dari Bandara Labuan Bajo. Ia menekankan bahwa dalam konteks penanganan gempa NTT, Labuan Bajo bukan sekadar tempat persinggahan biasa. "Labuan Bajo pada saat itu bukan sekadar tempat persinggahan, tetapi merupakan salah satu simpul penting operasi BNPB, termasuk untuk penerimaan dan distribusi logistik bagi wilayah Flores bagian barat," jelasnya. "Jadi, keberadaan seseorang di tempat tersebut tidak dapat langsung diartikan bahwa yang bersangkutan sedang tidak bekerja atau tidak berada dalam rangkaian operasi penanganan bencana."
Menurut Berton, dalam situasi darurat bencana, tugas personel BNPB tidak mengenal batas waktu kantor. Koordinasi, pemantauan data, pengambilan keputusan, hingga komunikasi publik berlangsung sepanjang waktu. Ia juga menjelaskan bahwa BNPB memiliki pembagian tugas yang jelas untuk setiap personel dalam penanganan darurat bencana. "Kami juga perlu membedakan antara personel yang memiliki tugas lapangan secara langsung dengan pejabat yang menjalankan fungsi koordinasi dan komunikasi. Keduanya merupakan bagian integral dari satu sistem penanganan bencana," imbuhnya.
Lebih lanjut, Berton berharap masyarakat dapat lebih bijak dalam menyaring informasi yang beredar. Ia menegaskan bahwa personel BNPB memiliki tanggung jawab ganda: menangani bencana di lapangan dan sekaligus menyampaikan informasi yang akurat kepada publik. "Yang paling penting, pada saat itu yang bersangkutan sedang menyampaikan informasi kepada masyarakat mengenai penanganan gempa NTT. Kami tidak ingin masyarakat mendapatkan informasi yang keliru hanya karena melihat potongan video tanpa konteks yang lengkap," pungkas Berton, mengakhiri penjelasannya.
