Internationalmedia.co.id – News – Sebuah pandangan mengejutkan muncul dari Uni Emirat Arab (UEA) mengenai keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di wilayahnya. Pangkalan-pangkalan tersebut, yang selama ini dianggap sebagai aset strategis, kini dinilai telah menjadi beban. Seruan untuk mempertimbangkan penutupan pangkalan AS ini datang dari seorang akademisi terkemuka, menyusul keterlibatan AS dalam konflik regional yang menyeret Timur Tengah, termasuk UEA, ke dalam ketegangan dengan Iran.
Dr. Abdulkhaleq Abdulla, Profesor Ilmu Politik dari Universitas Uni Emirat Arab dan mantan penasihat Putra Mahkota Abu Dhabi, secara terbuka menyerukan peninjauan kembali kehadiran militer AS. Menurutnya, UEA tidak lagi memerlukan perlindungan langsung dari AS karena kemampuan pertahanannya yang terus meningkat.

"UEA tidak lagi membutuhkan Amerika untuk membelanya. UEA telah membuktikan selama serangan Iran bahwa mereka mampu membela diri secara efektif," kata Abdulla, seperti dikutip Middle East Monitor dan Fars News pada Selasa (21/4/2026). Ia menambahkan, "Yang dibutuhkan UEA adalah memperoleh persenjataan terbaik dan tercanggih yang dimiliki AS. Oleh karena itu, sudah saatnya untuk memikirkan penutupan pangkalan-pangkalan Amerika, karena pangkalan tersebut telah menjadi beban daripada aset strategis."
Pernyataan tegas ini juga diunggah Abdulla melalui media sosial X pada Minggu (19/4) malam, menekankan bahwa fase saat ini menuntut pertimbangan serius mengenai masa depan pangkalan militer AS di UEA.
Lebih lanjut, Abdulla memperingatkan bahwa keberadaan pangkalan AS secara berkelanjutan berisiko menjerat UEA dalam konflik regional di mana negara tersebut sebenarnya tidak terlibat langsung. Ia berpendapat bahwa fokus pada penguatan kemampuan pertahanan nasional dan pengadaan persenjataan canggih akan jauh lebih bermanfaat dibandingkan mempertahankan kehadiran militer asing.
Menurut data Dewan Hubungan Luar Negeri, AS memiliki setidaknya 19 lokasi militer di Timur Tengah, delapan di antaranya bersifat permanen. Sebelum konflik antara AS dan Israel melawan Iran memanas pada akhir Februari, sekitar 40.000 tentara AS ditempatkan di kawasan ini.
UEA sendiri menjadi tuan rumah bagi sekitar 3.500 tentara AS, serta menjadi lokasi penting bagi pangkalan udara Al-Dhafra yang digunakan bersama oleh UEA, AS, dan Prancis. Sejak pecahnya konflik, Iran telah melancarkan serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. UEA dilaporkan terkena dampak cukup parah, dengan ratusan serangan drone dan rudal menghantam wilayahnya dalam beberapa pekan terakhir.
