Langkah drastis diambil Turki sebagai bentuk protes keras terhadap konflik di Jalur Gaza. Internationalmedia.co.id melaporkan, Ankara secara resmi menutup wilayah udaranya dan pelabuhannya untuk semua pesawat dan kapal Israel. Keputusan ini merupakan eskalasi terbaru dalam hubungan yang sudah memburuk antara kedua negara.
Pernyataan tegas disampaikan Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, dalam sidang parlemen. Fidan menyatakan bahwa Turki telah memutus hubungan perdagangan dengan Israel, menolak akses pelabuhan bagi kapal-kapal Israel, dan melarang kapal-kapal Turki memasuki pelabuhan Israel. Lebih jauh, ia menegaskan larangan bagi kapal kontainer yang membawa senjata dan amunisi menuju Israel untuk memasuki pelabuhan Turki, serta penutupan wilayah udara Turki untuk pesawat-pesawat Israel.

Meski demikian, sumber diplomatik Turki memberikan klarifikasi bahwa larangan tersebut tidak berlaku untuk penerbangan komersial transit. Hanya pesawat yang membawa senjata ke Israel dan penerbangan resmi Israel yang dilarang memasuki wilayah udara Turki. Belum ada informasi pasti kapan pembatasan ini mulai berlaku.
Turki juga menuduh Israel melakukan genosida di Jalur Gaza, tuduhan yang dibantah keras oleh Tel Aviv. Presiden Recep Tayyip Erdogan bahkan telah secara terbuka membandingkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan Adolf Hitler. Ankara mendesak gencatan senjata permanen dan akses kemanusiaan ke Jalur Gaza.
Fidan juga mengumumkan kesiapan Turki untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan melalui udara ke Jalur Gaza, menunggu persetujuan dari Yordania. Sementara itu, hingga saat ini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Israel terkait langkah tegas Turki tersebut. Situasi ini semakin memperkeruh hubungan kedua negara dan meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
