Washington DC – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras, menegaskan bahwa pasukan AS siap melancarkan gempuran "sangat keras" terhadap target-target di Iran dalam waktu dekat. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, sinyal ini mengindikasikan potensi eskalasi signifikan dalam operasi militer gabungan AS dan Israel yang kini telah memasuki minggu ketiga.
Dalam sebuah wawancara dengan Fox News Radio pada Jumat (13/3/2026), Trump dengan tegas menyatakan, "Kita akan menyerang mereka (Iran) dengan sangat keras selama pekan depan." Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan yang terus memanas, di mana Washington dan Tel Aviv meningkatkan tekanan militer terhadap Teheran.

Di sisi lain, Trump juga menyuarakan keyakinannya bahwa kepemimpinan Iran pada akhirnya bisa digulingkan oleh rakyatnya sendiri. Meski demikian, ia mengakui bahwa hal tersebut bukanlah tugas yang mudah dan mungkin tidak akan terwujud dalam waktu dekat. "Saya benar-benar berpikir itu merupakan rintangan besar yang harus diatasi bagi orang-orang yang tidak memiliki senjata. Saya pikir itu rintangan yang sangat besar… Itu akan terjadi, tetapi mungkin tidak segera," ujarnya dalam wawancara tersebut.
Pernyataan terbaru ini menandai perubahan nada dari Trump, yang sebelumnya sempat memberikan sinyal beragam mengenai kemajuan perang. Ia pernah sesumbar mengklaim "kita menang" melawan Iran dan bahkan mengisyaratkan perang bisa berakhir "sangat segera." Namun, dalam beberapa hari terakhir, retorikanya kembali mengeras, mengindikasikan tekad bulat untuk melanjutkan konfrontasi.
Ancaman terbarunya pada Jumat (13/3) juga dipicu oleh sinyal perlawanan yang jelas dari pemimpin terbaru Iran, Mojtaba Khamenei, yang mengisyaratkan tidak akan ada pelonggaran dalam konflik yang telah memicu gangguan serius pada aliran energi serta pasar global. Menanggapi hal ini, Trump mengancam, "Kita memiliki kekuatan senjata yang tak tertandingi, amunisi tak terbatas, dan waktu yang banyak. Lihat apa yang akan terjadi terhadap para pemimpin yang ia sebut ‘gila’ ini."
Konflik ini sendiri bermula sejak 28 Februari lalu, ketika pasukan AS dan Israel melancarkan serangan gabungan berskala besar terhadap Iran. Teheran merespons dengan melancarkan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan sejumlah negara Teluk yang menampung aset militer AS, memperluas cakupan dan intensitas konflik.

