Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini memberikan sinyal kuat mengenai potensi terobosan dalam hubungan antara AS dan Iran. Ia mengisyaratkan bahwa perundingan yang kemungkinan besar akan kembali digelar di Islamabad, Pakistan, pada pekan ini, bisa menghasilkan ‘sesuatu’ yang signifikan dalam kurun waktu dua hari ke depan. Internationalmedia.co.id – News melaporkan dari Jakarta, pernyataan ini memicu spekulasi luas tentang arah diplomasi kedua negara.
Mengutip laporan CNN, Trump menyampaikan pernyataan tersebut kepada seorang jurnalis New York Post yang bertugas di Islamabad. "Anda sebaiknya tetap di sana, sungguh, karena sesuatu mungkin terjadi dalam dua hari ke depan, dan kami lebih cenderung untuk pergi ke sana," kata Trump. Ia menambahkan bahwa peluang keberhasilan perundingan di Pakistan sangat tinggi, "karena sang marsekal lapangan melakukan pekerjaan yang luar biasa."

Pujian khusus dari Trump diarahkan kepada Marsekal Lapangan Pakistan, Jenderal Asim Munir, yang ia sebut ‘fantastis’ atas perannya. Sementara itu, opsi Jenewa, Swiss, sebagai lokasi alternatif untuk pembicaraan damai, secara tegas ditolak oleh Trump. "Mengapa kita harus pergi ke negara yang tidak ada hubungannya dengan hal ini?" ujarnya, mempertanyakan relevansi lokasi tersebut.
Meski demikian, Presiden Trump masih merahasiakan identitas perwakilan Amerika Serikat yang akan turut serta dalam putaran perundingan potensial ini. Sebagai konteks, Wakil Presiden JD Vance sebelumnya memimpin delegasi AS dalam negosiasi di Pakistan pada akhir pekan lalu, namun upaya tersebut dilaporkan berakhir tanpa adanya kesepakatan konkret.
Selain itu, Trump juga menegaskan penolakannya terhadap usulan agar Iran menghentikan program pengayaan uraniumnya selama 20 tahun. Poin ini, menurut laporan CNN, sempat diajukan oleh negosiator AS. "Saya telah mengatakan bahwa mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir," ujar Trump kepada New York Post, menggarisbawahi posisinya. "Jadi, saya tidak suka jangka waktu 20 tahun itu," tambahnya, menunjukkan ketidakpuasan terhadap durasi yang diusulkan. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa isu nuklir Iran tetap menjadi batu sandungan utama dalam setiap upaya perundingan.

