Internationalmedia.co.id – News melaporkan, di tengah ketegangan yang memuncak akibat blokade pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat (AS), kedua negara tersebut dikabarkan akan kembali ke meja perundingan. Negosiator dari AS dan Iran dijadwalkan bertemu di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan ini dalam upaya melanjutkan dialog untuk mengakhiri konflik yang berkepanjangan. Informasi ini didapatkan dari sejumlah sumber yang dilansir Reuters pada Selasa (14/4).
Meskipun Teheran merespons blokade AS dengan retorika yang keras, indikasi kuat menunjukkan bahwa jalur diplomatik tetap terbuka lebar. Seorang narasumber yang terlibat langsung dalam proses negosiasi mengungkapkan bahwa delegasi dari kedua belah pihak berpotensi kembali bertemu paling cepat akhir pekan ini. Sebuah proposal konkret bahkan telah diajukan kepada Washington dan Teheran, mengundang mereka untuk mengirimkan perwakilan masing-masing. "Meski tanggal pastinya belum final, ada kemungkinan pertemuan berlangsung antara Jumat hingga Minggu," ujar seorang pejabat senior Iran.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi pada Senin (13/4) bahwa Iran telah menghubunginya, menyatakan keinginan untuk mencapai kesepakatan. Namun, Trump dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak akan menyetujui perjanjian apa pun yang memungkinkan Teheran mengembangkan atau memiliki senjata nuklir.
Konflik ini berakar sejak 28 Februari, ketika AS dan Israel memulai ketegangan yang memicu respons Iran. Sebagai balasan, Teheran secara efektif menutup Selat Hormuz bagi sebagian besar kapal komersial, kecuali yang berbendera Iran. Iran bersikeras bahwa semua pelayaran melalui selat vital tersebut harus berada di bawah kendalinya dan dikenakan biaya. Penutupan ini memiliki dampak global yang signifikan, mengingat hampir seperlima pasokan minyak dan gas dunia sebelumnya melintasi jalur maritim yang sempit itu.
Menanggapi langkah Iran, militer AS pada Senin (13/4) mengumumkan dimulainya blokade terhadap lalu lintas kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran. Eskalasi ini segera dibalas dengan ancaman keras dari Teheran, yang menyatakan akan menyerang kapal-kapal angkatan laut yang melintasi Selat Hormuz, serta melancarkan pembalasan terhadap pelabuhan-pelabuhan negara Teluk tetangga.
Hingga sehari setelah blokade AS diberlakukan, belum ada laporan resmi mengenai tindakan penegakan langsung oleh Washington terhadap kapal-kapal yang melanggar kebijakan tersebut. Data pelayaran terkini justru menunjukkan bahwa setidaknya tiga kapal tanker yang memiliki kaitan dengan Iran terpantau melintasi Selat Hormuz, namun tidak menuju atau berasal dari pelabuhan Iran.

