Internationalmedia.co.id – Beijing merespons keras pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang berencana melanjutkan uji coba senjata nuklir. China mendesak Washington untuk "secara serius mematuhi" larangan uji coba nuklir global dan menjaga stabilitas dunia.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyampaikan pernyataan ini setelah Trump mengumumkan perintahnya kepada Pentagon untuk segera memulai persiapan uji coba nuklir. Trump menyinggung Rusia dan China sebagai alasan keputusannya.

"China berharap Amerika Serikat akan sungguh-sungguh mematuhi kewajiban perjanjian larangan uji coba nuklir komprehensif dan komitmennya terhadap larangan uji coba nuklir," tegas Guo. Ia juga menambahkan bahwa AS harus mengambil tindakan nyata untuk menjaga sistem perlucutan senjata dan nonproliferasi nuklir global, serta menjaga keseimbangan dan stabilitas strategis global.
Pengumuman Trump muncul menjelang pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping di Busan, Korea Selatan. Trump mengklaim bahwa AS memiliki lebih banyak senjata nuklir daripada negara lain dan merasa "SANGAT TIDAK SUKA" melakukan uji coba, tetapi merasa "tidak punya pilihan" karena negara lain juga melakukan hal serupa.
Trump juga menuding Rusia dan China sedang mengembangkan program nuklir mereka. "Karena negara-negara lain sedang menguji program, saya telah menginstruksikan Departemen Perang (nama baru Departemen Pertahanan-red) untuk memulai uji coba senjata nuklir kita secara setara," ujarnya.
Pernyataan Trump ini muncul setelah Rusia mengumumkan keberhasilan uji coba drone Poseidon bertenaga nuklir. Rusia juga sebelumnya mengklaim sukses menguji coba rudal jelajah Burevestnik berkemampuan nuklir. Menurut data, Rusia saat ini memiliki lebih banyak hulu ledak nuklir dibandingkan AS.
AS terakhir kali melakukan uji coba nuklir pada tahun 1992. Presiden AS saat itu, George HW Bush, mengumumkan moratorium uji coba nuklir bawah tanah pada tahun yang sama. Reaksi keras China ini menunjukkan meningkatnya kekhawatiran global terhadap potensi perlombaan senjata nuklir baru.
