Internationalmedia.co.id – News – Ibu kota Ukraina, Kyiv, kembali menjadi sasaran gempuran militer Rusia dalam serangan terbaru yang mematikan. Sedikitnya tiga warga sipil dilaporkan tewas dan tiga belas lainnya luka-luka akibat bombardir yang juga melanda pinggiran kota. Serangan ini memicu peringatan rudal di seluruh negeri, menggarisbawahi eskalasi ketegangan yang terus berlanjut.
Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengonfirmasi angka korban tersebut, seperti dilansir kantor berita AFP pada Jumat (9/1/2026). Ia juga mengungkapkan insiden tragis di mana seorang petugas medis kehilangan nyawanya saat berupaya menolong korban serangan drone yang menghantam sebuah gedung perumahan untuk kedua kalinya. Klitschko belum memastikan apakah petugas medis tersebut termasuk dalam total tiga korban tewas yang telah diumumkan.

Dampak serangan di Kyiv terlihat jelas dengan kebakaran yang berkobar dan kerusakan parah pada beberapa gedung apartemen. Sementara itu, di wilayah lain, Gubernur Mykola Kalashnyk mendesak penduduk untuk tetap berada di tempat perlindungan hingga sirene serangan udara berhenti berbunyi, menandakan bahaya telah berlalu.
Angkatan udara Ukraina telah mengeluarkan peringatan nasional, menyatakan bahwa "seluruh Ukraina berada di bawah ancaman rudal" setelah mengonfirmasi pergerakan pesawat pembom Rusia. Ancaman ini bukan isapan jempol, terbukti dengan serangan rudal balistik yang menghantam "fasilitas infrastruktur" di kota Lviv, Ukraina barat, sesaat sebelum tengah malam waktu setempat. Beruntungnya, otoritas militer regional memastikan tingkat radiasi di Lviv tetap dalam batas normal pasca-serangan.
Serangan mematikan ini terjadi tak lama setelah Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kyiv pada Kamis (8/1) waktu setempat mengeluarkan peringatan akan "serangan udara yang berpotensi signifikan" dalam beberapa hari ke depan. Peringatan langka ini juga sempat diulang oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam pidato malamnya, menunjukkan adanya intelijen yang kuat mengenai rencana agresi Rusia.
Di tengah situasi keamanan yang memburuk, pemerintah Rusia pada hari Kamis sebelumnya melabeli Kyiv dan sekutunya sebagai "poros perang". Moskow juga secara tegas menolak proposal perdamaian pasca-perang yang baru saja dirumuskan dalam pertemuan puncak di Paris. Rencana tersebut mencakup pembentukan mekanisme pemantauan yang dipimpin AS dan penempatan pasukan multinasional Eropa setelah konflik mereda. Namun, Rusia memperingatkan bahwa setiap pasukan penjaga perdamaian Barat yang dikirim ke Ukraina akan dianggap sebagai target sah serangan Rusia.
