Insiden mengerikan terjadi di Jalur Gaza. Internationalmedia.co.id melaporkan sedikitnya 20 orang meninggal dunia akibat desak-desakan di pusat distribusi bantuan kemanusiaan di Khan Younis, Rabu (16/7). Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), yang didukung Amerika Serikat, menuding adanya "penghasut" bersenjata yang memicu kekacauan di tengah kerumunan warga sipil yang tengah membutuhkan bantuan.
GHF, yang memulai operasi penyaluran bantuan secara swasta sejak 26 Mei lalu menyusul blokade Israel selama lebih dari dua bulan, kini menjadi sorotan. Meskipun didukung AS dan Israel, operasi GHF menuai kecaman dari PBB karena dianggap tidak netral. Pernyataan resmi GHF menyebutkan 19 korban meninggal akibat terinjak-injak dan satu orang akibat penusukan. Namun, sumber medis Rumah Sakit Nasser di Khan Younis memberikan angka yang berbeda, melaporkan sembilan korban tewas termasuk beberapa anak-anak, dan menyebut "pasukan Israel" sebagai penyebabnya.

Konflik narasi pun muncul. Sementara GHF menyalahkan "penghasut" yang berafiliasi dengan Hamas, sumber medis di Rumah Sakit Nasser menyatakan bahwa penembakan oleh "pasukan pendudukan Israel" dan petugas keamanan swasta di pusat bantuan menjadi penyebab jatuhnya korban jiwa. Mereka menambahkan bahwa para korban tengah menuju pusat distribusi bantuan di Rafah bagian barat laut ketika gerbang utama ditutup dan penembakan terjadi.
Peristiwa ini semakin menambah derita warga Gaza yang tengah menghadapi krisis kemanusiaan. Sebelumnya, PBB mencatat sedikitnya 875 orang tewas di Jalur Gaza saat berusaha mendapatkan bantuan makanan, termasuk 674 orang di sekitar lokasi GHF. Hingga saat ini, pihak militer Israel belum memberikan komentar resmi terkait insiden tersebut. Tragedi ini menjadi catatan kelam di tengah situasi yang sudah genting di Jalur Gaza.