Serangan rudal dan drone Iran secara masif menyasar pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk serta wilayah Israel pada Minggu (20/3/2026). Pertahanan udara Uni Emirat Arab (UEA) dan Kuwait sigap menanggapi ancaman rudal, sementara Arab Saudi berhasil mencegat serangan drone. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa insiden ini menandai eskalasi ketegangan di Timur Tengah.
Di Bahrain, Kementerian Dalam Negeri mengonfirmasi bahwa pecahan peluru dari "agresi Iran" menyebabkan kebakaran di sebuah gudang. Meskipun api berhasil dipadamkan tanpa menimbulkan korban jiwa, insiden ini memicu aktivasi sirene serangan udara. Pernyataan militer Kuwait menyebut pertahanan udara mereka "menanggapi ancaman rudal dan drone musuh," sementara media pemerintah UEA melaporkan adanya "ancaman rudal dan drone yang datang dari Iran."

Garda Revolusi Iran, melalui kantor berita Tasnim, mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Mereka secara spesifik menargetkan pasukan AS di pangkalan udara Al-Dhafra, UEA, serta beberapa lokasi di Israel menggunakan rudal dan drone. Hingga berita ini diturunkan, tidak ada laporan langsung mengenai korban jiwa dari pihak manapun.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengumumkan keberhasilan pasukannya dalam "mencegat dan menghancurkan" 10 drone di bagian timur negara itu dan satu drone lainnya di bagian utara, semuanya dalam waktu kurang dari dua jam. Ini menunjukkan kesiapan pertahanan Saudi menghadapi ancaman udara.
Serangan ini bukan insiden tunggal. Pada Kamis (19/3), drone juga menyerang kilang minyak Saudi di Laut Merah dan menyebabkan kebakaran di dua kilang lainnya di Kuwait. Eskalasi ini terjadi setelah kerusakan parah di pusat gas terbesar dunia, Ras Laffan di Qatar, pada hari Rabu. Kerusakan tersebut diyakini sebagai balasan atas serangan Israel terhadap ladang gas South Pars, yang menjadi sumber utama gas bagi Ras Laffan.
Rentetan insiden ini menggarisbawahi peningkatan ketegangan yang signifikan di kawasan Teluk, dengan Iran yang semakin agresif dalam menargetkan infrastruktur energi dan militer yang terkait dengan AS dan sekutunya, sebagai respons terhadap konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

