Tim dokter forensik bersama kepolisian baru-baru ini melakukan langkah krusial dengan membongkar makam Sutrimo, dalam upaya mengungkap misteri di balik kematiannya yang mencurigakan. Jasad Sutrimo, yang sebelumnya ditemukan dengan kondisi mulut dan hidung berbusa, kini menjadi fokus penyelidikan intensif. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, proses ekshumasi ini juga melibatkan pengambilan sampel swab dari jenazah.
Ketua Tim Dokter Forensik, Prof. Yudi, dalam konferensi pers menjelaskan bahwa informasi awal mengenai buih di hidung dan mulut Sutrimo memang diterima. Namun, saat ekshumasi dilakukan, kondisi tersebut sudah tidak terlihat. "Memang informasi yang kami terima, jenazah Sutrimo ini mengeluarkan buih ya dari hidung dan mulutnya pada saat dia meninggal. Namun pada waktu kami ekshumasi tadi, sudah tidak ada," kata Prof. Yudi. Meski demikian, tim forensik tetap mengambil sampel dengan metode swab untuk mencari sisa-sisa zat yang mungkin terkandung di dalamnya. "Tapi kami mencoba melakukan tadi, pemisahan laboratorium mengambil dengan cara men-swab ya, apakah di situ masih ada sisa-sisa dari yang terkandung dari ini," tambahnya.

Pihak kedokteran forensik akan melanjutkan dengan serangkaian uji laboratorium lanjutan. Ini mencakup pemeriksaan toksikologi untuk mendeteksi racun, analisis DNA, hingga pemeriksaan histopatologi pada jaringan tubuh. Prof. Yudi menambahkan bahwa jenazah Sutrimo sudah dalam kondisi pembusukan, mengingat ia telah dimakamkan selama tiga pekan. "Kita tunggu dari hasil laboratorium tersebut, apakah itu dari toksikologi ataupun dari pemeriksaan DNA-nya ataupun dari pemeriksaan histopatologinya," jelasnya.
Dalam proses ekshumasi, tim juga mengambil berbagai sampel dari jenazah Sutrimo, mulai dari kepala hingga bagian tubuh lainnya. Sampel kulit yang dicurigai memiliki kelainan, swab, serta organ dalam seperti lambung dan jantung, semuanya diambil untuk analisis mendalam. Polda Metro Jaya, yang mengawal penyelidikan ini, menegaskan komitmennya untuk mengedepankan scientific crime investigation guna mengungkap penyebab pasti kematian.
Ekshumasi jenazah Sutrimo sendiri berlangsung di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, pada Rabu (12/8). Proses pembongkaran makam ini memakan waktu sekitar 3,5 jam, dimulai dari pukul 09.30 hingga 13.00 WIB. Sutrimo ditemukan tidak sadarkan diri pada Kamis (23/7) dan kemudian dilarikan ke RS Muhammadiyah Taman Puring, tempat ia dinyatakan meninggal dunia.
