Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan diplomatik memuncak antara Spanyol dan Amerika Serikat setelah Madrid secara tegas menolak permintaan Washington untuk menggunakan pangkalan militernya dalam potensi serangan terhadap Iran. Keputusan ‘lampu merah’ dari Spanyol ini memicu kemarahan Presiden AS Donald Trump, yang kemudian melontarkan ancaman keras. Penolakan ini bahkan telah menyebabkan penarikan sejumlah pesawat militer AS dari wilayah Spanyol, seperti dikonfirmasi oleh Menteri Pertahanan Spanyol, Margarita Robles.
Menteri Pertahanan Robles, dalam sebuah konferensi pers di Pangkalan Udara Armilla pada Senin (2/3), menjelaskan posisi Madrid. Ia menegaskan bahwa setiap operasi yang melibatkan fasilitas militer di tanah Spanyol harus "beroperasi dalam kerangka hukum internasional." Lebih lanjut, Robles menyatakan bahwa instalasi militer di Spanyol tidak akan diizinkan "memberikan dukungan kecuali jika itu mutlak diperlukan dari perspektif kemanusiaan."

Data dari situs pelacakan penerbangan FlightRadar24 mengindikasikan bahwa lebih dari selusin pesawat militer AS, termasuk pesawat tanker pengisian bahan bakar udara Boeing KC-135, telah ditarik dari pangkalan udara Moron de la Frontera dan Rota pada akhir pekan lalu. Tujuh di antaranya dilaporkan telah dipindahkan ke Pangkalan Udara Ramstein di Jerman. Robles menduga langkah penarikan ini diambil AS karena "mereka mengetahui pesawat-pesawat itu tidak dapat beroperasi" dari Spanyol. Ia juga menekankan bahwa perjanjian tahun 1953 antara kedua negara memberikan Spanyol hak penuh untuk menentukan pemanfaatan pasukan AS yang ditempatkan di wilayahnya. Robles secara tegas menyatakan bahwa pangkalan-pangkalan di Spanyol tidak terlibat dalam serangan terhadap Iran pada Sabtu (28/2) dan tidak akan digunakan untuk "operasi pemeliharaan dan dukungan" di masa mendatang. Ia juga mengklarifikasi bahwa kebijakan ini sama sekali tidak mencerminkan dukungan terhadap rezim Iran, yang ia gambarkan sebagai "mengerikan dan diktator."
Sebelumnya, Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, telah menjadi salah satu pemimpin Uni Eropa yang secara terbuka mengutuk serangan AS dan Israel terhadap Iran. Menurut laporan Anadolu Agency, Sanchez menyebut tindakan Washington yang terkoordinasi dengan Tel Aviv itu sebagai "pelanggaran hukum internasional" dan memperingatkan bahwa serangan semacam itu hanya akan menciptakan "tatanan internasional yang lebih tidak pasti dan bermusuhan." Madrid juga telah mengecam serangan balasan Iran terhadap negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah aset militer AS.
Kemarahan Presiden Trump memuncak setelah penolakan Spanyol tersebut. Ia mengancam akan memutus semua hubungan perdagangan dengan Spanyol. Dikutip dari Al Arabiya dan AFP pada Rabu (4/3), Trump menyatakan kepada wartawan saat bertemu dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz, "Spanyol sangat buruk." Ia menambahkan, "Kami akan memutus semua perdagangan dengan Spanyol. Kami tidak ingin berhubungan dengan Spanyol." Ancaman ini juga muncul di tengah keberatan Spanyol terhadap peningkatan pendanaan pertahanan dalam kerangka NATO.
Menanggapi ancaman Trump, PM Sanchez tidak gentar. Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Rabu (4/3), seperti dilaporkan AFP, Sanchez menegaskan sikap Madrid: "Posisi pemerintah Spanyol dapat diringkas dalam empat kata: tidak untuk perang." Ia melanjutkan, "Kami tidak akan terlibat dalam sesuatu yang merugikan dunia dan bertentangan dengan nilai-nilai serta kepentingan kami, hanya karena takut akan pembalasan." Sanchez menekankan, "Kami menentang bencana ini," dan menambahkan bahwa pendiriannya didukung oleh "banyak pemerintah lain dan jutaan warga di seluruh Eropa, Amerika Utara, dan Timur Tengah yang tidak menginginkan lebih banyak perang atau ketidakpastian di masa depan."

