Angka kematian warga Palestina di Tepi Barat sejak Oktober 2023 telah mencapai angka yang mengkhawatirkan. Internationalmedia.co.id melaporkan bahwa setidaknya 1.000 warga Palestina telah tewas akibat peningkatan aksi kekerasan militer Israel. Kekerasan ini terjadi di tengah fokus dunia pada tragedi kemanusiaan di Gaza.
Laporan dari Aljazeera menyebutkan bahwa sementara dunia menyoroti genosida di Gaza yang menewaskan lebih dari 56.331 jiwa dan menggusur hampir seluruh populasi 2,3 juta penduduk, Israel juga meningkatkan serangannya di Tepi Barat. Bukan hanya militer, namun pemukim Israel juga turut serta dalam aksi kekerasan yang brutal, menyerang dan membunuh warga sipil Palestina.

Samer Bassam al-Zagharneh, pemuda Palestina yang ditembak mati tentara Israel pada 1 Juli 2025, menjadi salah satu korban terbaru. Ia tewas di dekat tembok pemisah yang dibangun Israel sejak 2002. Serangan-serangan ini tak hanya dilakukan oleh militer, tetapi juga oleh para pemukim Israel yang melancarkan serangan mendadak ke berbagai kota, membakar properti, menyerang penduduk, dan berupaya mengusir mereka dari rumah.
Pasukan keamanan Israel juga dilaporkan mengepung dan menyerbu kamp-kamp pengungsi secara terus-menerus, mengusir warga dan mencegah mereka kembali. Situasi semakin memburuk dengan dipersenjatainya para pemukim Israel dengan senjata semi-otomatis dan integrasi mereka ke dalam pasukan Israel di Tepi Barat, terutama setelah sebagian besar pasukan militer dikerahkan ke Gaza. Hal ini menyebabkan batas antara pasukan keamanan dan pemukim menjadi kabur, dan diduga merupakan upaya sengaja dari militer Israel untuk meningkatkan kekerasan terhadap warga Palestina.
