Internationalmedia.co.id melaporkan, serangan udara Amerika Serikat (AS) ke tiga fasilitas nuklir Iran di Natanz, Fordow, dan Isfahan telah memicu kemarahan Teheran. Serangan yang dilakukan Minggu (22/6) menggunakan pesawat pembom B-2 dan bom GBU-57A/B Massive Ordnance Penetrator (MOP) seberat 30.000 pon dengan daya ledak 6.000 pon itu disebut Iran sebagai awal dari "perang berbahaya".
Presiden AS Donald Trump, dalam pidato singkatnya, mengklaim serangan tersebut telah melumpuhkan fasilitas pengayaan nuklir Iran. Ia bahkan mengancam akan melancarkan serangan lebih lanjut jika Iran tak mau berdamai. "Akan ada perdamaian atau akan ada tragedi bagi Iran yang jauh lebih besar," ancam Trump. Pernyataan ini langsung disambut kecaman keras dari Iran.

Iran membantah klaim AS mengenai kerusakan signifikan pada fasilitas nuklirnya. Kantor berita IRNA, mengutip pernyataan pejabat lembaga penyiaran Iran, menegaskan bahwa bahan radioaktif telah dikeluarkan sebelum pengeboman sehingga tidak ada ancaman radiasi.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui akun X-nya, mengecam keras serangan tersebut sebagai tindakan "melanggar hukum dan kriminal". Ia menegaskan hak Iran untuk mempertahankan kedaulatannya dan menyebut serangan AS sebagai "perang berbahaya". Pernyataan serupa disampaikan Kementerian Luar Negeri Iran melalui kantor berita Tasnim, yang menuduh AS telah mengkhianati proses diplomasi dan melanggar hukum internasional. Iran pun mendesak PBB dan IAEA untuk segera menangani insiden ini dan meminta Dewan Keamanan PBB menggelar sidang darurat.
Araghchi, dalam pidatonya di Istanbul pada pertemuan puncak OKI, menyebut serangan AS sebagai tindakan tak termaafkan dan pelanggaran serius hukum internasional. Ia menilai Presiden Trump telah mengkhianati diplomasi dan bahkan pemilihnya sendiri. Araghchi menegaskan bahwa pintu diplomasi saat ini tertutup bagi Iran, mengingat negaranya tengah berada di bawah agresi. Ia menekankan bahwa program nuklir Iran bersifat damai dan menyerukan komunitas internasional untuk menghentikan ancaman AS. Araghchi juga menyatakan rakyat Iran bersatu dan siap melawan segala bentuk agresi.
