Internationalmedia.co.id – News – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini membuat pernyataan mengejutkan yang mengindikasikan bahwa Washington dan Teheran berada di ambang penandatanganan kesepakatan perdamaian. Trump bahkan menyatakan kesediaannya untuk terbang ke Pakistan demi meresmikan perjanjian bersejarah tersebut.
Berbicara kepada awak media di Gedung Putih, Trump mengungkapkan bahwa Iran telah menyetujui untuk menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya mereka. Ini merupakan poin krusial dalam setiap negosiasi nuklir, dan kesepakatan ini membuka jalan bagi putaran pembicaraan lebih lanjut yang kemungkinan besar akan diselenggarakan di Islamabad, Pakistan.

"Kita sangat dekat untuk mencapai kesepakatan dengan Iran," ujar Trump, seperti dikutip dari laporan AFP dan Al Arabiya pada Jumat (17/4/2026). Ia menekankan pentingnya memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir, sebuah tujuan yang menurutnya telah disepakati sepenuhnya oleh Teheran. "Mereka telah menyetujui hampir semuanya, jadi mungkin jika mereka bisa duduk di meja perundingan, akan ada perbedaan," tambahnya, menyiratkan optimisme tinggi.
Saat ditanya mengenai kemungkinan kunjungannya ke Pakistan untuk penandatanganan kesepakatan, Trump menjawab tegas, "Saya mungkin akan pergi, ya." Ia melanjutkan, "Jika kesepakatan itu ditandatangani di Islamabad, saya mungkin akan pergi," menegaskan komitmennya terhadap proses perdamaian ini.
Pemimpin AS tersebut juga tidak lupa melayangkan pujian kepada Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang disebutnya "benar-benar hebat," serta panglima militer Pakistan, Asim Munir. Keduanya diakui atas peran vital mereka dalam memfasilitasi dialog antara Washington dan Teheran.
Perlu dicatat, upaya sebelumnya yang dipimpin oleh Wakil Presiden AS, JD Vance, dengan delegasi ke Islamabad pekan lalu, berakhir tanpa hasil konkret. Namun, Gedung Putih mengonfirmasi bahwa diskusi untuk putaran kedua pembicaraan sedang berlangsung, dan Pakistan kembali menjadi lokasi yang paling mungkin.
Trump menegaskan kembali bahwa penyerahan cadangan uranium yang diperkaya oleh Iran adalah inti dari kesepakatan yang sedang dirancang. Meskipun rincian spesifik belum diungkapkan, ia menggunakan istilah khasnya, "debu nuklir," untuk merujuk pada material tersebut, yang menurut AS berpotensi digunakan untuk pengembangan senjata nuklir.

