Pengakuan mengejutkan datang dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Dalam wawancara dengan media AS, Internationalmedia.co.id mengutip pernyataan Araghchi yang mengakui kerusakan serius pada fasilitas nuklir Iran akibat pengeboman Amerika Serikat (AS) bulan lalu. Kerusakan tersebut, menurutnya, telah menghentikan sementara program pengayaan uranium negara tersebut.
"Fasilitas kami rusak parah," ungkap Araghchi kepada Fox News, seperti dikutip Al Arabiya. Namun, ia menegaskan bahwa penghentian sementara ini bukan berarti Iran menyerah. "Program ini dihentikan karena kerusakannya serius. Tapi, kami tak bisa menghentikan pengayaan uranium. Ini pencapaian ilmuwan kami dan kini menjadi masalah kebanggaan nasional," tegasnya.

Pernyataan ini cukup signifikan mengingat Iran adalah satu-satunya negara non-nuklir yang saat ini memperkaya uranium hingga 60 persen, menurut Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Angka ini sangat dekat dengan tingkat pengayaan 90 persen yang dibutuhkan untuk membuat senjata nuklir. Tuduhan Barat soal Iran diam-diam mengembangkan senjata nuklir pun kembali mencuat. Iran sendiri selalu membantah tuduhan tersebut dan mengklaim program nuklirnya murni untuk tujuan sipil.
Ketegangan antara Iran dan AS semakin meningkat setelah serangan Israel terhadap Iran pada 13 Juni lalu yang memicu perang 12 hari. AS kemudian melancarkan serangan udara terhadap tiga fasilitas nuklir Iran pada 22 Juni, termasuk fasilitas pengayaan uranium di Fordow, serta fasilitas nuklir di Isfahan dan Natanz. Serangan ini terjadi setelah lima putaran perundingan nuklir antara Teheran dan Washington yang dimulai April lalu, dan pertemuan yang direncanakan pada 15 Juni dibatalkan karena konflik tersebut. Dampak jangka panjang dari serangan ini terhadap program nuklir Iran dan hubungan internasional masih menjadi perhatian dunia.
