Internationalmedia.co.id – Operasi penggerebekan narkoba yang menggemparkan Rio de Janeiro, Brasil, kini mencatatkan jumlah korban tewas yang mencengangkan. Peristiwa ini menjadi sorotan dunia, mengungkap sisi kelam kota yang terkenal dengan keindahan pantainya.
Jumlah korban tewas terus bertambah, mencapai angka yang mengkhawatirkan. Kantor pembela umum negara bagian Rio de Janeiro melaporkan setidaknya 132 orang meregang nyawa dalam operasi yang menargetkan Comando Vermelho, geng narkoba tertua dan terkuat di kota tersebut. Sementara itu, kepolisian setempat mencatat 119 korban tewas, terdiri dari 115 tersangka kriminal dan empat personel kepolisian.

Penggerebekan yang melibatkan ratusan personel kepolisian dengan dukungan helikopter, kendaraan lapis baja, dan drone, memicu baku tembak sengit di dua favela yang menjadi basis Comando Vermelho. Para anggota geng bahkan menyita puluhan bus dan menggunakan drone peledak untuk menyerang polisi.
Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, mengecam keras kejahatan terorganisir dan menyerukan tindakan tegas tanpa membahayakan warga sipil. Ia mengutus Menteri Kehakiman Ricardo Lewandoswki ke Rio de Janeiro untuk menawarkan bantuan pemerintah federal.
Gubernur Rio de Janeiro, Claudio Castro, memuji operasi tersebut sebagai "keberhasilan" dalam melawan "narkoterorisme". Namun, operasi ini juga menuai kecaman dari keluarga korban, yang menuduh polisi melakukan eksekusi. Hakim Alexandre de Moraes bahkan memanggil Castro untuk memberikan penjelasan terkait penggerebekan tersebut.
Sekretaris Kepolisian Sipil, Felipe Curi, mengklaim bahwa mayat-mayat korban "dipajang di jalanan" setelah penduduk setempat melucuti pakaian dan senjata mereka. Sementara itu, Sekretaris Kepolisian Militer, Marcelo de Menezes, menyatakan bahwa pasukan khusus sengaja mendorong para penjahat ke area hutan untuk melindungi penduduk.
Insiden ini menjadi tamparan keras bagi Brasil, terutama menjelang perundingan iklim PBB COP30 di Amazon. Tantangan keamanan yang dihadapi Brasilia kini menjadi sorotan utama, menuntut solusi komprehensif untuk mengatasi kejahatan terorganisir yang mengakar.
