Israel di ambang keputusan kontroversial. Internationalmedia.co.id melaporkan, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyetujui rencana penaklukan Kota Gaza. Langkah berani ini disertai dengan pemanggilan sekitar 60.000 tentara cadangan, siap diterjunkan untuk operasi skala besar. Konfirmasi ini disampaikan juru bicara Kementerian Pertahanan Israel pada Rabu (20/8), sementara para mediator gencatan senjata terus berupaya mengakhiri konflik hampir dua tahun di Gaza.
Meskipun Qatar, sebagai mediator, menyatakan optimisme atas proposal gencatan senjata terbaru, seorang pejabat senior Israel menegaskan bahwa pembebasan seluruh sandera tetap menjadi syarat mutlak bagi pemerintahnya. Proposal yang disetujui Hamas itu menawarkan gencatan senjata 60 hari, pembebasan sandera bertahap, pembebasan beberapa tahanan Palestina, dan akses bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Negosiasi tidak langsung antara Israel dan Hamas selama perang telah menghasilkan dua gencatan senjata singkat, dengan pembebasan sandera ditukar dengan pembebasan tahanan Palestina. Namun, rencana penaklukan Gaza, yang disetujui kabinet keamanan Israel, memicu kekhawatiran akan semakin memburuknya krisis kemanusiaan. Qatar dan Mesir, dengan dukungan AS, gencar memediasi upaya diplomasi ini.
Qatar menyebut proposal terbaru "hampir identik" dengan versi sebelumnya yang telah disetujui Israel, sementara Mesir menyatakan "bola kini ada di pihak Israel". Perdana Menteri Benjamin Netanyahu belum memberikan komentar resmi, namun sebelumnya ia menegaskan bahwa Israel hanya akan menerima kesepakatan yang memastikan pembebasan semua sandera sekaligus. Pejabat senior Hamas, Mahmoud Mardawi, melalui media sosial, menyatakan kesiapan Hamas mencapai kesepakatan, namun mempertanyakan keseriusan Netanyahu. Nasib Gaza kini berada di ujung tanduk.

