Internationalmedia.co.id melaporkan, rencana Israel untuk menguasai Jalur Gaza mendapat kecaman keras dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Eropa, Asia Tengah, dan Amerika, Miroslav Jenca, mengungkapkan kekhawatirannya di hadapan Dewan Keamanan PBB. Peringatan ini muncul di tengah laporan yang menyebutkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mempertimbangkan pendudukan penuh wilayah Palestina tersebut.
Jenca menekankan bahwa perluasan operasi militer Israel berisiko menimbulkan bencana bagi jutaan warga Palestina dan mengancam keselamatan sandera yang masih ditahan di Gaza. Ia menegaskan, tak ada solusi militer untuk konflik Gaza maupun konflik Israel-Palestina secara keseluruhan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat Dewan Keamanan PBB pada Selasa (5/8) waktu setempat.

Netanyahu sendiri, saat mengunjungi fasilitas pelatihan militer Israel, menyatakan pentingnya mengakhiri konflik di Gaza, membebaskan sandera, dan memastikan Gaza tak lagi menjadi ancaman bagi Israel. Pernyataan ini disampaikan di tengah kerusakan besar di Gaza akibat perang yang telah berlangsung selama 22 bulan, dengan ancaman kelaparan massal semakin mendesak.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, mengatakan kehadirannya di markas besar PBB bertujuan untuk menyoroti isu sandera. Ia mendesak pembebasan sandera tanpa syarat. Namun, Jenca juga menyoroti minimnya bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza, menyebut kelaparan telah terjadi di mana-mana. Ia menambahkan, bantuan yang masuk sangat tidak memadai, dan menggambarkan keputusasaan warga Gaza yang mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan kebutuhan dasar. Situasi ini semakin memperparah krisis kemanusiaan di Jalur Gaza.

