Internationalmedia.co.id – Sejumlah anggota parlemen Amerika Serikat (AS) melayangkan surat permohonan mendesak kepada mantan Presiden Donald Trump untuk segera membebaskan seorang remaja Amerika-Palestina bernama Mohammed Ibrahim yang berusia 16 tahun. Remaja tersebut telah mendekam di tahanan Israel selama delapan bulan terakhir, memicu kekhawatiran serius terkait perlakuan yang diterimanya.
Dilansir dari Al Jazeera, surat tersebut ditujukan kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, oleh 27 anggota parlemen terkemuka, termasuk Senator Bernie Sanders dan Chris Von Hollen. Mereka mengungkapkan keprihatinan mendalam atas laporan penyiksaan yang dialami Mohammed selama penahanannya.

"Departemen Luar Negeri tidak memiliki prioritas yang lebih tinggi daripada keselamatan dan keamanan warga negara AS di luar negeri," bunyi surat tersebut, menekankan tanggung jawab pemerintah AS untuk melindungi warganya. Para anggota parlemen mendesak keterlibatan langsung dengan pemerintah Israel untuk memastikan pembebasan segera remaja tersebut.
Keluarga Mohammed melaporkan bahwa ia mengalami penurunan berat badan yang signifikan, kondisi kesehatan yang memburuk, dan tanda-tanda penyiksaan. Penundaan persidangan yang terus-menerus semakin memperburuk situasi yang dihadapi Mohammed.
Selain itu, sepupu Mohammed, Sayfollah Musallet, yang berusia 20 tahun, tewas dipukuli oleh pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki selama masa penahanan Mohammed. Meskipun Duta Besar AS Huckabee telah mendesak penyelidikan atas pembunuhan tersebut, belum ada penangkapan yang dilakukan, dan kekerasan oleh pemukim Israel terhadap warga Palestina seringkali tidak dihukum.
Menurut kesaksian yang diperoleh oleh Defense for Children International – Palestine (DCIP), Mohammed mengaku dipukuli dengan popor senapan saat ditangkap dan ditahan di sel dingin dengan makanan yang tidak memadai. DCIP juga melaporkan bahwa ia telah kehilangan berat badan yang cukup besar sejak penangkapannya pada bulan Februari.
Otoritas Israel menuduh Mohammed, yang saat itu berusia 15 tahun, melemparkan batu ke arah pemukim Israel di Tepi Barat. Namun, ia membantah tuduhan tersebut, dan anggota parlemen AS menyatakan bahwa "tidak ada bukti yang diberikan secara publik untuk mendukung tuduhan ini".
