Internationalmedia.co.id melaporkan, Gedung Putih mengungkapkan kekecewaan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump atas laporan pembunuhan warga Palestina di Jalur Gaza saat mengantre bantuan kemanusiaan. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan hal tersebut dalam konferensi pers Senin (21/7), seperti dikutip internationalmedia.co.id dari The Times of Israel.
Leavitt menegaskan Trump “tidak suka” melihat kejadian tersebut dan menginginkan penghentian pembunuhan di Gaza. Ia bahkan menyebut Trump “terkejut” dengan serangan Israel baru-baru ini yang menyasar lokasi pemerintah Suriah dan sebuah gereja Katolik di Gaza. Pernyataan ini menunjukkan ketidaknyamanan AS terhadap kebijakan Israel, meskipun kedua negara tetap memiliki hubungan strategis yang erat.

Menanggapi pertanyaan wartawan terkait insiden tewasnya warga sipil yang mengantre bantuan, Leavitt menekankan keinginan Trump untuk mengakhiri kekerasan dan menegosiasikan gencatan senjata. “Presiden (Trump) ingin semua sandera dibebaskan dari Gaza. Itu prioritas utama baginya,” tegas Leavitt.
Angkatan Bersenjata Israel (IDF) mengakui telah menembakkan tembakan peringatan yang mengenai warga Palestina yang dianggap mendekati pasukan mereka secara mengancam, saat ribuan orang berkumpul di dekat konvoi bantuan PBB di Gaza utara Minggu (20/7). Leavitt, tanpa menyebut Israel secara spesifik, menyatakan Trump menginginkan distribusi bantuan kemanusiaan dilakukan secara damai dan memastikan bantuan tersebut tidak jatuh ke tangan Hamas. Ia juga menambahkan, Trump prihatin melihat penderitaan warga sipil, terutama wanita dan anak-anak yang kelaparan.
Ditanya mengenai komunikasi Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Leavitt menyebut keduanya memiliki hubungan kerja yang baik dan sering berkomunikasi. Namun, laporan Axios sebelumnya menyebutkan adanya frustrasi di kalangan pejabat AS terhadap Netanyahu. Pernyataan Leavitt menunjukkan ketidakpuasan tersebut juga dirasakan Trump sendiri.
