Internationalmedia.co.id melaporkan, Israel mengumumkan jeda pertempuran selama 10 jam setiap hari di tiga wilayah Gaza. Keputusan ini, menurut pernyataan militer Israel, bertujuan untuk memfasilitasi akses bantuan kemanusiaan dari PBB dan organisasi internasional lainnya. Langkah ini diambil di tengah krisis kelaparan yang semakin parah di wilayah tersebut.
Militer Israel mengklaim telah berkoordinasi dengan PBB untuk meningkatkan pengiriman bantuan, termasuk pengiriman makanan melalui udara. Namun, Israel membantah keras tuduhan penggunaan kelaparan sebagai senjata perang terhadap warga sipil Palestina.

Jeda pertempuran akan berlaku di Al-Mawasi, Deir el-Balah, dan Kota Gaza, wilayah yang menurut militer Israel saat ini tidak menjadi area operasi aktif. Jeda berlangsung dari pukul 07.00 GMT hingga 17.00 GMT setiap hari. Selain itu, rute aman telah dibuka di seluruh Gaza untuk konvoi PBB dan organisasi bantuan yang mengirimkan makanan dan obat-obatan.
Bushra Khalidi, kepala kebijakan regional lembaga bantuan Oxfam, menyebut keputusan ini sebagai langkah awal yang positif, namun memperingatkan bahwa hal itu mungkin tidak cukup. Ia menekankan perlunya gencatan senjata permanen, akses penuh, pembukaan semua penyeberangan, dan aliran bantuan yang besar dan stabil ke Gaza.
Sentimen serupa diungkapkan warga Gaza. Suad Ishtaywi (30), warga distrik Tel al-Hawa, Kota Gaza, berharap bantuan dapat segera mencapai tenda pengungsian keluarganya. Ia menggambarkan keputusasaan keluarganya yang hanya berharap dapat makan sepotong roti. Mohammed al-Daduh (44), warga Gaza lainnya, mengungkapkan keprihatinan atas kelaparan yang mengancam nyawa mereka setiap hari. Ia berharap bantuan, termasuk bantuan dari Mesir, dapat segera masuk ke Gaza.
Laporan internationalmedia.co.id juga menyebutkan bahwa truk-truk bantuan Mesir telah mulai masuk ke Gaza melalui perlintasan Rafah. Namun, tetap ada kekhawatiran mengenai keberlanjutan dan efektivitas jeda pertempuran ini dalam mengatasi krisis kemanusiaan yang kompleks di Gaza.

