Pembicaraan telepon selama dua jam antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Prancis Emmanuel Macron menyita perhatian dunia. Internationalmedia.co.id melaporkan, percakapan yang berlangsung intens ini membahas berbagai isu krusial, mulai dari konflik Ukraina hingga program nuklir Iran. Kedua pemimpin negara adikuasa itu sepakat untuk melanjutkan komunikasi guna mencari solusi atas permasalahan pelik tersebut.
Dari keterangan resmi kepresidenan Prancis, Macron menegaskan kembali dukungan Prancis terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina. Ia mendesak agar segera terjadi gencatan senjata dan dimulainya negosiasi antara Ukraina dan Rusia untuk penyelesaian konflik secara permanen. Namun, Kremlin memberikan sudut pandang berbeda. Putin mengingatkan Macron bahwa konflik di Ukraina merupakan konsekuensi langsung dari kebijakan negara-negara Barat yang selama bertahun-tahun mengabaikan kepentingan keamanan Rusia dan membangun "jembatan anti-Rusia" di Ukraina.

Perang singkat antara Israel dan Iran juga menjadi topik pembahasan. Macron kembali mendesak Iran untuk mengurangi ketegangan dengan menghentikan pengayaan uranium. Sementara itu, Putin, mewakili Rusia sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB yang memiliki hubungan dekat dengan Iran, menekankan hak Teheran untuk mengembangkan program nuklir sipil. Kedua pemimpin sepakat bahwa penyelesaian konflik terkait program nuklir Iran dan konflik Timur Tengah lainnya harus dilakukan secara diplomatik.
Meskipun perbedaan pandangan terlihat jelas, kedua presiden sepakat untuk melanjutkan kontak dan komunikasi lebih lanjut mengenai isu Ukraina dan program nuklir Iran. Janji untuk menjalin komunikasi lebih intensif ini menimbulkan pertanyaan: akankah upaya diplomatik ini membuahkan hasil nyata dalam meredakan ketegangan global? Hanya waktu yang akan menjawabnya.
