Internationalmedia.co.id memberitakan reaksi mengejutkan Korea Utara (Korut) menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran. Pyongyang mengecam keras aksi tersebut, menyebutnya sebagai pelanggaran berat Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pernyataan resmi ini menjadi sorotan dunia, mengingat hubungan rumit antara ketiga negara tersebut.
Dalam pernyataan yang dilansir oleh media pemerintah Korut dan dikutip oleh AFP, seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Korut menyatakan kecaman keras atas serangan AS ke fasilitas nuklir Iran. Serangan itu dinilai sebagai tindakan yang tidak menghormati kedaulatan negara lain. Lebih jauh, pernyataan tersebut juga menuding "keberanian Israel yang sembrono" sebagai pemicu utama peningkatan ketegangan di Timur Tengah.

Juru bicara tersebut menambahkan bahwa Israel telah "mempromosikan kepentingan sepihak melalui gerakan perang tanpa henti dan ekspansi wilayah". Pernyataan ini menjadi komentar pertama Korut, negara pemilik senjata nuklir, terkait serangan akhir pekan lalu. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengklaim serangan tersebut telah "menghancurkan" program nuklir Iran, meskipun Washington menegaskan tidak berniat menggulingkan pemerintah Teheran. Klaim Trump tersebut bahkan didukung dengan pernyataan adanya "kerusakan besar" di semua lokasi nuklir Iran, berdasarkan citra satelit yang tidak dipublikasikan.
Situasi ini semakin menegangkan mengingat Korut memiliki puluhan hulu ledak nuklir dan berbagai sistem pengiriman. Ketegangan antara Korut dan Korea Selatan (Korsel), serta AS yang menempatkan sekitar 30.000 tentara di Semenanjung Korea, juga semakin meningkat. Perlu diingat bahwa Korut dan Korsel masih secara teknis dalam keadaan perang, karena Perang Korea (1950-1953) hanya berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai. Reaksi Korut ini pun menimbulkan pertanyaan baru tentang dinamika geopolitik regional dan potensi eskalasi konflik di masa mendatang.
