Internationalmedia.co.id – News – Presiden Rusia Vladimir Putin secara mengejutkan menawarkan perannya sebagai mediator utama dalam meredakan ketegangan yang memanas di Timur Tengah. Inisiatif ini muncul menyusul serangkaian serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Moskow, yang memiliki hubungan erat dengan Teheran, kini siap menjadi jembatan dialog antara negara-negara Teluk Arab dan Republik Islam tersebut, demikian dilaporkan kantor berita Reuters pada Rabu (4/3/2026).
Langkah diplomatik ini terungkap melalui serangkaian percakapan telepon yang dilakukan Putin dengan para pemimpin Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Qatar pada Senin (2/3) waktu setempat. Dalam kesempatan tersebut, Putin tidak segan melontarkan kritik tajam terhadap agresi AS-Israel terhadap Iran. Perlu dicatat, negara-negara Teluk Arab yang merupakan sekutu strategis Washington ini, telah menghadapi rentetan serangan drone dan rudal dari Iran sejak serangan udara AS dan Israel dimulai pada Sabtu (28/2) lalu, menambah kompleksitas situasi keamanan di kawasan.

Kremlin merinci bahwa dalam dialognya dengan Presiden UEA Mohammed bin Zayed Al Nahyan, Putin secara eksplisit menawarkan diri untuk menjadi perantara. Ia siap menyampaikan keluhan dan kekhawatiran UEA terkait serangan yang terjadi langsung kepada Teheran. Kedua belah pihak, menurut pernyataan resmi Kremlin, sepakat menekankan urgensi gencatan senjata segera dan pentingnya kembali ke jalur proses politik serta diplomatik untuk menyelesaikan krisis.
Dalam percakapan terpisah dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani, para pemimpin membahas kekhawatiran mendalam mengenai potensi eskalasi konflik yang lebih luas, termasuk risiko keterlibatan pihak ketiga yang dapat memperparah keadaan. Kepada Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa, Putin menegaskan komitmen Rusia untuk mengerahkan segala upaya demi menstabilkan situasi yang bergejolak di kawasan tersebut.
Sebelumnya, pada Minggu (1/3), Putin telah mengeluarkan kecaman keras atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Kementerian Luar Negeri Rusia bahkan menuduh Amerika Serikat dan Israel telah menyeret Timur Tengah "ke dalam jurang eskalasi yang tak terkendali." Namun, di balik retorika keras tersebut, Moskow juga terlihat berhati-hati untuk tidak memperkeruh hubungan dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Pasalnya, Washington saat ini berperan sebagai mediator dalam perundingan perdamaian terkait konflik Ukraina. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, secara gamblang menyatakan bahwa kelanjutan negosiasi Ukraina adalah kepentingan utama Moskow.
Peskov menegaskan, "Kami memiliki kepentingan sendiri yang harus kami lindungi, dan merupakan kepentingan kami untuk melanjutkan negosiasi ini [mengenai Ukraina]." Pernyataan ini menggarisbawahi posisi dilematis Rusia yang, di satu sisi, mengkritik tindakan AS-Israel, namun di sisi lain, berupaya menjaga jalur diplomatik terbuka demi kepentingan strategisnya di Eropa Timur.

