Pernyataan mengejutkan datang dari Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen. Internationalmedia.co.id melaporkan, dalam wawancara dengan harian Jyllands-Posten, Frederiksen secara terang-terangan menyebut Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebagai "masalah". Pernyataan ini disampaikan di tengah konflik Gaza yang berkepanjangan dan situasi kemanusiaan yang memprihatinkan.
Frederiksen, yang saat ini menjabat sebagai Presiden Uni Eropa, menyatakan keprihatinannya atas tindakan pemerintah Israel yang dianggapnya sudah "terlalu jauh". Ia mengutuk keras situasi kemanusiaan di Jalur Gaza yang disebutnya "sangat mengerikan dan merupakan bencana besar". Proyek permukiman baru Israel di Tepi Barat juga turut menjadi sorotan kecamannya.

Tekanan terhadap Israel, menurut Frederiksen, akan terus ditingkatkan. Namun, ia mengakui kesulitan mendapatkan dukungan penuh dari anggota Uni Eropa lainnya. "Kami adalah salah satu negara yang ingin meningkatkan tekanan terhadap Israel, tetapi kami belum mendapatkan dukungan dari anggota-anggota Uni Eropa," ujarnya.
Sebagai bentuk tekanan, Frederiksen bahkan mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk "tekanan politik, sanksi, baik terhadap para pemukim, para menteri, atau bahkan Israel secara keseluruhan", yang meliputi sanksi perdagangan atau penelitian. "Kami tidak mengesampingkan kemungkinan apa pun sebelumnya. Sama seperti Rusia, kami merancang sanksi untuk menargetkan area yang kami yakini akan memberikan dampak terbesar," tegasnya.
Meskipun demikian, Denmark tidak termasuk dalam negara-negara Eropa yang akan mengakui negara Palestina di PBB pada September mendatang. Pernyataan Frederiksen ini muncul setelah Kepala Staf Militer Israel mengumumkan rencana serangan baru di Jalur Gaza untuk melawan Hamas dan membebaskan sandera. Serangan-serangan udara yang semakin intensif di wilayah permukiman Gaza juga menjadi perhatian serius. Hamas sendiri mengecam serangan darat Israel yang disebutnya "agresif".

