Internationalmedia.co.id melaporkan, Rusia memberikan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS) agar tidak memberikan bantuan militer langsung kepada Israel dalam konfliknya dengan Iran. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, menyatakan bahwa langkah tersebut akan berdampak sangat buruk pada situasi di Timur Tengah. "Ini akan secara radikal mengacaukan seluruh situasi," tegas Ryabkov, seperti dikutip dari kantor berita Rusia, Interfax, oleh Reuters dan Al Arabiya.
Ryabkov menambahkan bahwa Rusia dan AS tengah menjalin komunikasi untuk membahas konflik tersebut. Sementara itu, Kepala dinas intelijen luar negeri Rusia, SVR, Sergei Naryshkin, menilai situasi antara Iran dan Israel kini sangat kritis. Sebelumnya, beredar kabar bahwa Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk bergabung dengan serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran. Trump bahkan sempat secara terbuka membahas rencana untuk membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, meskipun ia menyatakan belum akan melakukannya saat ini.

Serangan udara mendadak Israel terhadap fasilitas nuklir, ilmuwan nuklir, dan pemimpin militer Iran pekan lalu, yang dikecam Rusia sebagai tindakan ilegal dan tidak beralasan, telah memicu serangan balasan rudal dan drone Iran ke kota-kota Israel. Presiden Rusia Vladimir Putin, yang telah menandatangani perjanjian kemitraan strategis dengan Iran pada Januari lalu, menyerukan penghentian permusuhan. Putin optimistis solusi damai dapat dicapai, meskipun mengakui kompleksitas masalah tersebut. "Ini masalah rumit, tapi saya yakin solusinya bisa ditemukan," ujarnya kepada kantor berita AFP. Ia juga menyoroti konsolidasi dukungan publik di Iran terhadap pemerintahnya pasca serangan Israel.
