Internationalmedia.co.id – News – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Sari Yuliati, menyoroti serius insiden dugaan keracunan massal yang menimpa 352 siswa di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), usai mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kejadian ini, menurut Sari, bukan sekadar persoalan biasa, melainkan alarm serius yang menuntut penanganan tuntas dan tidak boleh disepelekan.
"Saya sangat prihatin dengan musibah keracunan yang dialami ratusan anak didik kita. Keselamatan dan kesehatan mereka adalah prioritas utama yang tak bisa ditawar. Oleh karena itu, investigasi menyeluruh untuk mengungkap akar penyebab insiden ini harus segera dilakukan," tegas Sari dalam keterangan persnya baru-baru ini. Anggota DPR RI dari daerah pemilihan NTB II ini menekankan bahwa MBG adalah program strategis pemerintah yang menyasar generasi muda, sehingga aspek keamanan pangan, kualitas gizi, dan kepatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) wajib diutamakan dalam setiap pelaksanaannya.

Sari mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) untuk segera melakukan evaluasi komprehensif terhadap implementasi program di lapangan. BGN harus memastikan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjalankan SOP dengan disiplin ketat. Apabila terbukti ada kelalaian atau pelanggaran prosedur, Sari meminta agar sanksi tegas diberlakukan sesuai aturan yang berlaku. "Evaluasi tidak hanya berhenti pada pencarian penyebab. Kita juga harus memastikan apakah seluruh SOP telah dijalankan dengan benar. Jika ada kelalaian, sanksi tegas harus diberikan agar menjadi pelajaran berharga dan tidak terulang di kemudian hari," ujarnya. Sari juga menegaskan bahwa DPR RI akan terus mengintensifkan fungsi pengawasannya terhadap kinerja BGN dan SPPG di seluruh wilayah.
Seperti diberitakan sebelumnya, ratusan siswa dari berbagai sekolah dasar di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, NTB, mengalami gejala keracunan seperti muntah-muntah dan pusing usai menyantap makanan dari program MBG. Insiden ini sontak menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat dan pihak berwenang.
Menanggapi insiden ini, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan MBG Lombok Tengah, Lalu Firman Wijaya, memastikan seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis yang diperlukan. Pihaknya masih terus memantau kondisi para siswa yang dirawat di sejumlah Puskesmas. Sementara itu, Ketua Satgas Program MBG NTB, Fathul Gani, mengindikasikan bahwa SPPG yang bertanggung jawab atas penyaluran makanan tersebut terancam sanksi suspend atau penghentian sementara operasional. Sanksi ini, menurut Gani, akan menjadi bagian dari evaluasi menyeluruh program guna memastikan kualitas dan keamanan pangan.
Sari Yuliati menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, melainkan secara fundamental dari kualitas dan keamanan makanan yang disajikan. "Program MBG harus membawa manfaat nyata, bukan justru menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Kejadian ini harus menjadi momentum krusial untuk memperkuat sistem pengawasan, memperbaiki pelaksanaan di lapangan, dan menjamin setiap anak mendapatkan asupan gizi yang aman dan berkualitas," pungkasnya, menyerukan perbaikan menyeluruh demi masa depan anak-anak Indonesia.
