Internationalmedia.co.id melaporkan, perseteruan antara Elon Musk dan Donald Trump kembali memanas. Hubungan keduanya yang sempat harmonis saat Musk menjabat sebagai penasihat senior Gedung Putih dan Kepala Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE) selama 130 hari hingga 30 Mei lalu, kini berubah menjadi pertempuran kata-kata di media sosial.
Setelah mundur dari pemerintahan Trump, Musk secara terbuka mengkritik "One Big, Beautiful Bill Act", RUU belanja pemerintah yang diusulkan Trump. Musk menyebutnya sebagai "kekejian yang menjijikkan" melalui platform X. Puncaknya, Musk bahkan merespon unggahan yang menyarankan pemakzulan Trump dengan kata "Ya," sebuah pernyataan yang bertolak belakang dengan dukungannya sebelumnya terhadap Trump. Musk, yang pernah menyumbangkan hampir US$ 300 juta untuk kampanye Trump pada Pilpres 2024, bahkan sempat menyatakan kekagumannya pada Trump pada Februari lalu.

Namun, lima hari kemudian, Musk menyatakan penyesalan atas kritiknya terhadap Trump. Pernyataan penyesalan ini disambut baik oleh Trump dan Gedung Putih. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan apresiasi atas pernyataan Musk tersebut, dan menegaskan tidak ada upaya untuk mengakhiri kontrak pemerintah AS dengan perusahaan-perusahaan milik Musk.
Tensi kembali meningkat ketika Trump mengancam akan memulangkan Musk ke Afrika Selatan jika subsidi federal AS untuk kendaraan listrik dikurangi. Trump berpendapat bahwa Musk sangat bergantung pada subsidi pemerintah. Musk membalas dengan mengkritik keras RUU "Big Beautiful Bill" yang menurutnya akan sangat merugikan sektor energi bersih dan kendaraan listrik, menyebutnya sebagai "bunuh diri politik" bagi Partai Republik. Trump membalas dengan menyindir Musk dan perusahaannya, Tesla dan SpaceX, serta mempertanyakan efisiensi pengeluaran pemerintah. Perang komentar di media sosial ini menunjukkan bahwa perselisihan antara dua tokoh berpengaruh ini masih jauh dari selesai.
