Internationalmedia.co.id melaporkan pernyataan kontroversial Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang mengejutkan banyak pihak. Dalam sebuah pernyataan di Ruang Oval Gedung Putih, Trump mengatakan bahwa banyak warga Amerika rupanya menyukai kepemimpinan diktator. Pernyataan ini disampaikan saat Trump menandatangani perintah eksekutif baru terkait pengetatan tindakan keras federal di Washington DC dan penuntutan pembakar bendera, seperti yang dilansir internationalmedia.co.id pada Selasa (26/8/2025).
Trump melontarkan pernyataan mengejutkan tersebut di tengah kritik terhadap kebijakannya yang represif. Ia mengeluhkan kurangnya pengakuan atas kebijakannya dalam memberantas kejahatan dan pelanggaran imigrasi, yang didukung oleh Garda Nasional AS. "Mereka mengatakan ‘Kita tidak membutuhkannya. Kebebasan. Kebebasan. Dia seorang diktator. Dia seorang diktator’. Banyak orang berkata: ‘Mungkin kita menyukai seorang diktator’," ujar Trump kepada wartawan. Namun, ia buru-buru membantah dirinya sendiri sebagai diktator. "Saya tidak menyukai diktator. Saya bukan seorang diktator. Saya orang yang sangat berakal sehat dan cerdas," tegasnya.

Ironisnya, sebelum terpilih kembali pada November tahun lalu, Trump pernah menyatakan akan menjadi "diktator sejak hari pertama". Langkah-langkah kontroversial Trump belakangan ini, seperti pengerahan Garda Nasional AS di Washington DC dengan senjata api, serta rencana pengiriman militer AS ke Chicago dan Baltimore, semakin memperkuat kecurigaan publik. Partai Demokrat pun gencar mengkritik tindakan Trump yang dianggap melampaui batas konstitusional.
Perintah eksekutif terbaru Trump juga mencakup penyelidikan dan penuntutan pembakar bendera, meskipun hal tersebut dilindungi oleh kebebasan berbicara menurut putusan Mahkamah Agung tahun 1989. Lebih jauh lagi, Trump berencana mengubah nama Departemen Pertahanan AS menjadi Departemen Perang, sebuah langkah yang menuai banyak kritik. "Pertahanan terlalu defensif," katanya singkat. Pernyataan-pernyataan kontroversial Trump ini tentu akan memicu perdebatan panjang di Amerika Serikat.
