Langit Beirut, Lebanon, baru-baru ini dikejutkan oleh manuver sejumlah pesawat militer Israel yang terbang dalam ketinggian sangat rendah. Aksi provokatif ini tidak hanya menimbulkan kegaduhan, tetapi juga disertai dengan penyebaran selebaran propaganda yang ditujukan langsung kepada penduduk setempat, demikian dilaporkan oleh Internationalmedia.co.id – News.
Insiden yang terjadi di atas ibu kota Lebanon ini memicu serangkaian ledakan sonik yang memekakkan telinga, terdengar jelas oleh koresponden AFP. Empat dentuman keras berturut-turut dilaporkan sebelum gumpalan selebaran kertas terlihat berhamburan dari angkasa. Sumber dari media pemerintah Lebanon mengonfirmasi bahwa kebisingan tersebut berasal dari jet tempur Israel yang bermanuver di ketinggian ekstrem rendah, menjatuhkan material cetak di beberapa area padat penduduk seperti Verdun, Hamra, dan Ain al-Mreisseh di Beirut bagian barat.

Isi selebaran tersebut memuat pesan provokatif yang secara langsung menyasar warga Lebanon. Di antaranya tertulis seruan untuk "melucuti senjata Hizbullah, perisai Iran" dan penegasan bahwa "Lebanon adalah keputusan Anda, bukan orang lain." Yang lebih mencurigakan, selebaran itu juga menyertakan kode QR dengan kalimat "Unit 504 bekerja untuk mengamankan masa depan Lebanon dan rakyatnya." Diketahui, Unit 504 merupakan sayap intelijen militer Israel, dan taktik penyebaran selebaran serupa juga kerap digunakan di wilayah konflik lain seperti Gaza.
Menanggapi manuver Israel ini, pemerintah Lebanon, melalui militernya, segera mengeluarkan peringatan keras kepada warganya. Seperti dilansir Al Jazeera, militer Lebanon secara spesifik mengimbau penduduk Beirut agar tidak memindai kode QR yang tertera pada selebaran tersebut. Dalam rilis resminya, militer menjelaskan bahwa kode tersebut merupakan pintu gerbang menuju tautan grup WhatsApp dan Facebook yang dioperasikan oleh unit intelijen militer Israel, dengan tujuan merekrut agen dari kalangan warga Lebanon.
Pihak militer Lebanon menegaskan bahwa tindakan memindai kode dan mengklik tautan tersebut berpotensi menimbulkan risiko serius, baik dari segi hukum maupun keamanan pribadi. Mereka memperingatkan bahwa hal itu tidak hanya dapat menyeret warga ke dalam masalah hukum, tetapi juga berisiko tinggi menyebabkan perangkat digital mereka diretas dan data pribadi dieksploitasi oleh pihak asing.
