Internationalmedia.co.id – Madagaskar mengalami perubahan kepemimpinan dramatis setelah Kolonel militer Michael Randrianirina secara resmi dilantik sebagai Presiden pada Jumat (17/10) waktu setempat. Pelantikan ini terjadi menyusul gejolak politik yang memaksa mantan Presiden Andry Rajoelina meninggalkan negara tersebut.
Randrianirina, yang memimpin unit militer CAPSAT yang memberontak, mengucapkan sumpah jabatan di pengadilan tinggi di Antananarivo. Dalam pidato pelantikannya, ia menyatakan bahwa hari itu adalah "titik balik bersejarah" bagi Madagaskar, seraya menjanjikan babak baru yang didorong oleh semangat rakyat untuk perubahan.

Acara pelantikan tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh militer, politisi, perwakilan gerakan protes pemuda, serta delegasi asing dari Amerika Serikat, Uni Eropa, Rusia, dan Prancis. Randrianirina menekankan komitmennya untuk bekerja sama dengan berbagai elemen masyarakat dalam merancang konstitusi yang lebih baik dan undang-undang pemilu yang baru.
"Kita berkomitmen untuk melepaskan diri dari masa lalu," tegasnya, seraya menambahkan bahwa misi utamanya adalah mereformasi sistem pemerintahan, sosial ekonomi, dan politik negara secara menyeluruh.
Pergolakan politik di Madagaskar mencapai puncaknya setelah unit militer CAPSAT mengambil alih kekuasaan, menyusul pemakzulan Rajoelina oleh parlemen pada Selasa (14/10). Randrianirina, yang sebelumnya pernah dipenjara karena merencanakan kudeta, telah lama menjadi pengkritik pemerintahan Rajoelina.
Setelah mengambil alih kekuasaan, Randrianirina menyatakan bahwa transisi ke kepemimpinan sipil akan memakan waktu kurang dari dua tahun dan mencakup restrukturisasi lembaga-lembaga besar. Ia juga membantah bahwa tindakan unit militernya adalah "kudeta", melainkan "pengambilan tanggung jawab karena negara ini berada di ambang kehancuran," seperti yang disampaikannya melalui televisi setempat pada Rabu (15/10).
