Internationalmedia.co.id melaporkan situasi mencekam di Gaza. Badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) menyampaikan keprihatinan mendalam atas krisis kemanusiaan yang semakin parah di wilayah tersebut. Laporan terbaru menyebutkan lonjakan kasus kelaparan akut yang mengancam jutaan nyawa.
UNRWA menerima laporan mengerikan dari stafnya di Gaza tentang penderitaan akibat kelaparan. Lebih dari dua juta penduduk Gaza menghadapi kekurangan pangan dan kebutuhan pokok lainnya. Harga pangan dilaporkan melonjak hingga 40 kali lipat, sementara stok bantuan yang tersedia hanya cukup untuk memberi makan seluruh penduduk selama tiga bulan. Kondisi ini diperparah oleh blokade yang diberlakukan Israel.

Data dari berbagai sumber, termasuk dokter, badan pertahanan sipil, dan MSF (Doctors Without Borders), menunjukkan peningkatan signifikan kasus malnutrisi, terutama pada bayi. Laporan menyebutkan kematian beberapa bayi akibat kelaparan dan malnutrisi dalam beberapa hari terakhir. Direktur Rumah Sakit Al-Shifa, Mohammed Abu Salmiya, mengungkapkan bayi di bawah satu tahun sangat rentan karena kekurangan ASI, yang berdampak pada penurunan berat badan dan daya tahan tubuh.
UNRWA mendesak agar pengepungan Gaza segera dicabut untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan masuk secara aman dan dalam jumlah besar. Mereka menekankan bahwa penderitaan di Gaza adalah buatan manusia dan harus segera dihentikan. Perundingan untuk memperpanjang gencatan senjata sebelumnya telah gagal, dan blokade penuh yang diberlakukan Israel sejak Maret lalu semakin memperburuk situasi. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan angka korban tewas akibat konflik mencapai 59.029 warga Palestina, sebagian besar warga sipil. Situasi ini membutuhkan perhatian dunia dan tindakan segera untuk mencegah bencana kemanusiaan yang lebih besar.
