Internationalmedia.co.id – News, Jenewa – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengeluarkan peringatan keras mengenai eskalasi luas jika negaranya diserang. Peringatan ini disampaikan menyusul peningkatan ancaman serangan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang telah mengerahkan kekuatan militer besar ke kawasan tersebut.
Dalam Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa, Swiss, pada Selasa (24/2/2026), Gharibabadi menyerukan kepada seluruh negara yang berkomitmen pada perdamaian dan keadilan untuk mengambil langkah-langkah konkret guna mencegah eskalasi lebih lanjut. "Konsekuensi dari setiap agresi baru tidak akan terbatas pada satu negara, dan tanggung jawab penuh akan diemban oleh pihak yang memulai atau mendukung tindakan tersebut," tegasnya, seperti dilansir AFP.

Ancaman Trump mencakup pengerahan kekuatan udara dan laut secara masif ke Timur Tengah, disertai ultimatum agar Iran mencapai kesepakatan mengenai isu-isu utama, terutama program nuklirnya. Trump sendiri pekan lalu mengakui sedang mempertimbangkan serangan terbatas jika Iran tidak mencapai kesepakatan dalam perundingan.
Meskipun demikian, Iran menegaskan komitmennya terhadap jalur diplomasi. Perundingan tidak langsung antara negosiator Iran dan AS, yang dimediasi oleh Oman, telah berlangsung di Jenewa pekan lalu dan dijadwalkan akan dilanjutkan pada Kamis (26/2) mendatang. Gharibabadi menyatakan bahwa Republik Islam Iran tetap teguh pada komitmennya terhadap diplomasi dan dialog, memandangnya sebagai jalur paling efektif menuju de-eskalasi dan keamanan yang berkelanjutan.
"Keterlibatan diplomatik baru-baru ini di Jenewa menunjukkan adanya celah baru bagi negosiasi untuk menjembatani perbedaan dan membangun kepercayaan," jelas Gharibabadi. Namun, ia menekankan bahwa negosiasi tersebut harus menghormati prinsip saling menghormati, perlakuan yang adil, serta penerapan norma internasional tanpa pilih kasih. Ia menambahkan, setiap negosiasi yang berkelanjutan dan kredibel harus menghormati hak-hak sah setiap negara berdasarkan hukum internasional, serta memberikan manfaat keamanan yang nyata tanpa adanya paksaan, tuntutan sepihak, atau ancaman kekerasan.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Senin (23/2), memperingatkan AS bahwa setiap serangan, bahkan yang terbatas sekalipun, "akan dianggap sebagai tindakan agresi" dan akan ditanggapi dengan "respons yang ganas." Baghaei menegaskan bahwa Iran akan menggunakan hak inherennya untuk membela diri "secara ganas" jika diperlukan.
Ancaman militer dari AS dan Israel juga muncul setelah ribuan orang tewas akibat tindakan keras Teheran terhadap demonstrasi antipemerintah beberapa waktu lalu. Iran menegaskan, meskipun mengupayakan jalur diplomasi, negaranya siap untuk mempertahankan kedaulatan, wilayah, dan rakyatnya.

