Internationalmedia.co.id – News – Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menjadi sorotan publik dengan pernyataan kontroversialnya mengenai dinamika geopolitik di Timur Tengah. Berbicara dalam sebuah forum bisnis bergengsi di Florida, Trump mengklaim bahwa pengaruh Iran, yang selama ini ia sebut sebagai "pengganggu" regional, kini telah meredup drastis menyusul serangkaian operasi militer yang dilancarkan oleh Washington dan sekutunya.
Dalam pidatonya di Future Investment Initiative (FII) yang digelar di Miami pada Jumat (27/3), Trump dengan tegas menyatakan, "Selama 47 tahun, Iran dikenal sebagai pengganggu di Timur Tengah, tetapi mereka bukan lagi pengganggu. Mereka sedang dalam pelarian." Pernyataan ini mencuat di tengah eskalasi ketegangan di kawasan, di mana AS bersama Israel telah melancarkan serangan gabungan skala besar terhadap Iran sejak 28 Februari lalu. Teheran sendiri membalas dengan serangkaian gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.

Trump berargumen bahwa "agresi teror" dan "pemerasan nuklir" Iran telah menjadi ciri khas kebijakan luar negeri negara tersebut selama beberapa dekade. Ia memuji operasi militer AS, yang diberi nama sandi Operation Epic Fury, sebagai langkah krusial yang berhasil melemahkan kapasitas Teheran. "Kita berkumpul pada saat tindakan berani dan keputusan bersejarah untuk membuat Amerika dan sekutu-sekutu kita lebih aman dan lebih kuat, lebih makmur, lebih sukses dari sebelumnya," ujarnya di hadapan para pebisnis dan investor.
Lebih lanjut, Trump menegaskan bahwa "malam ini, kita lebih dekat dari sebelumnya pada kebangkitan Timur Tengah yang akhirnya terbebas dari agresi teror dan pemerasan nuklir Iran." Ia bahkan mengklaim bahwa para pemimpin Iran kini berada dalam posisi "bernegosiasi" dan "memohon" untuk mencapai kesepakatan, mengisyaratkan adanya perubahan signifikan dalam hierarki kepemimpinan Iran. "Para pemimpin mereka telah meninggal. Pemimpin tertinggi mereka tidak lagi berkuasa. Dia telah meninggal. Putranya mungkin telah meninggal atau dalam kondisi sangat buruk, karena tidak ada yang mendengar kabar darinya," kata Trump, tanpa memberikan detail lebih lanjut mengenai klaim tersebut.
Mantan Presiden itu juga tidak segan melontarkan ancaman. Dengan menyebutkan bahwa AS masih memiliki "3.554 target tersisa" di Iran, Trump bersumpah bahwa situasi tersebut akan "diselesaikan dengan cukup cepat." Ia menutup pidatonya dengan optimisme tinggi, mengklaim bahwa "Timur Tengah akan bertransformasi" dan masa depan kawasan tersebut belum pernah "terlihat lebih cerah."

