Washington DC – Internationalmedia.co.id – News – Gedung Putih kembali diguncang pengakuan mengejutkan dari orang dalam. Susie Wiles, Kepala Staf Gedung Putih, membuat pernyataan kontroversial yang menggambarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memiliki "kepribadian seperti pecandu alkohol", meskipun Trump sendiri tidak mengonsumsi minuman keras. Pengakuan ini muncul dalam wawancara eksklusif dengan majalah Vanity Fair yang diterbitkan pada Selasa (16/12/2025), memicu perbincangan luas mengenai dinamika internal pemerintahan.
Wiles, yang mencetak sejarah sebagai wanita pertama yang menduduki posisi Kepala Staf Gedung Putih, menjelaskan bahwa pengalamannya menghadapi ayah pecandu alkohol di masa kecil telah mempersiapkannya untuk berhadapan dengan "kepribadian yang kuat" seperti Trump. Ia menyebut Trump beroperasi dengan keyakinan mutlak bahwa "tidak ada yang tidak bisa dia lakukan," sebuah pandangan yang ia samakan dengan pola pikir seorang pecandu.

Ketegangan internal di dalam administrasi Trump, menurut Wiles, seringkali terjadi karena perbedaan pandangan yang fundamental. Ia mengaku berulang kali mencoba mengubah pikiran Trump mengenai berbagai isu krusial, mulai dari penegakan hukum imigrasi hingga pengurangan jumlah pegawai pemerintah, namun selalu gagal. Contohnya, Wiles telah memperingatkan Trump agar tidak memberikan pengampunan kepada para tersangka penyerbuan Gedung Capitol pada 6 Januari 2021 dan mendesaknya untuk menunda keputusan terkait tarif perdagangan yang luas. Namun, saran-sarannya diabaikan.
Lebih jauh, Wiles menyoroti keinginan Trump untuk membalas dendam terhadap pihak-pihak yang dianggapnya musuh. Ia mengindikasikan bahwa kasus hukum yang menjerat Jaksa Agung New York, Letitia James, seorang kritikus vokal Trump dari Partai Demokrat, kemungkinan besar dimotivasi oleh motif balas dendam tersebut. "Ketika ada kesempatan, dia akan melakukannya," kata Wiles, merujuk pada dorongan Trump untuk membalas dendam. Pengumuman tarif terhadap mitra dagang AS juga menjadi titik perpecahan, di mana para penasihat mendesak konsensus sebelum keputusan diambil, namun lagi-lagi, Trump bergerak sesuai keinginannya.
Wiles, yang sebelumnya merupakan ahli strategi politik dari Florida dan mengelola kampanye Trump pada pilpres 2024, menggambarkan bagaimana upaya untuk memengaruhi presiden seringkali menemui jalan buntu. Pengakuannya ini, seperti dilansir Reuters pada Rabu (17/12/2025), memberikan gambaran mendalam tentang tantangan yang dihadapi oleh staf Gedung Putih di bawah kepemimpinan Trump.
Menanggapi artikel Vanity Fair, Wiles menyatakan bahwa tulisan itu "dibuat secara tidak jujur dan bertujuan menyerang saya serta Presiden, staf Gedung Putih, dan kabinet terbaik dalam sejarah." Ia menuduh majalah tersebut menghilangkan konteks penting dan mengutipnya secara selektif untuk menciptakan narasi negatif.
Sementara itu, Presiden Trump, dalam pernyataannya kepada New York Post, menegaskan dukungannya kepada Wiles. "Saya tidak membacanya, tetapi saya tidak membaca Vanity Fair — tetapi dia telah melakukan pekerjaan yang fantastis," ujar Trump, menunjukkan bahwa ia tetap mempertahankan Kepala Stafnya di tengah badai pengakuan ini. Pernyataan ini sekaligus menyoroti dinamika unik dalam lingkaran terdekat Trump, di mana loyalitas seringkali diuji di tengah kontroversi.
